​Berbekal Keyakinan Kepada Alloh, Tukang Patri Ini Masih Beroperasi

243
Ket Foto: Dadang, Warga Kp. Cempaka, saat ditemui Awak Media (Foto: Istimewa)

GARUT, (KF).-  DERASNYA arus globalisasi dan kerasnya persaingan dunia usaha, tak menyurutkan Dadang (71), warga Kp. Cempaka, Kelurahan Lebakjaya untuk terus menjalankan usaha jasanya sebagai “tukang patri”.  Meski penghasilannya sebagai tukang patri sangat minim dan tak menentu, namun berbekal keyakinannya, bahwa Tuhan maha pemberi rejeki, lelaki  yang biasa dipanggil Abah ini, masih sanggup menjadi tukang patri keliling.

“Sok sanaos tos jarang numiwarang (jarang yang menggunakan jasa patri- red), namung rejeki mah Alloh nungatur,” katanya, penuh keyakinan, saat tengah memperbaiki alat milik warga Kp. Cibelik, Jalan Ciledug Garut, Senin (10.07).

Abah Dadang menuturkan, melemahnya usaha patri sangat terasa, menyusul kebijakan pemerintah terkait konversi minyak tanah ke gas.” Karaosna repot pisan mah ngawitan teu aya kompor minyak tanah we. Ari kompor minyak mah keuna ku bocor, boh handapna, boh luhurna. Teras parabot dapur ge seueur nugampil bocor. Janten penghasilan tina patri teh tiasa diandelkeun kapungkur mah,” kisahnya.

Ia pun menjelaskan, pernah berganti-ganti profesi. Mulai jadi pedagang kueh banros, buruh pabrik, bahkan pernah bermitra dengan pengusaha rekanan Pertamina. 

” kantos dagang banros dugi seep 10 kilo sadinten, ngabandar kurupuk. Malah kantos didamel di pemborong proyek Pertamina, uih deui we janten tukang patri,” kenangnya. 

Seiring usianya yang semakin tua, bapak tiga anak ini, sudah tak bisa lagi menawarkan jasa patrinya ke tempat yang jauh.” Ayeuna mah di kota we, nuju anom mah dugi ka Tarogong, “paparnya. 

Dadang yang sudah menjalani profesinya sejak Tahun 1965 itu, mengatakan, jumlah tukang patri di Garut ini sudah sangat langka. Padahal dulu di kampungnya saja sangat banyak yang menekuni usaha tersebut.(Jay).

BAGIKAN