​Kepala UPT PMI Garut Berharap, PNS di Garut Lebih Aktif Sebagai Pendonor Darah

179

Ket Foto: Istri dari TNI/Polri saat berpartisipasi dalam kegiatan donor darah 

GARUT, (KF).- Lebih dari 100 orang  yang hadir dan berpartisipasi dalam Kegiatan Donor Darah yang di gelar Digedung pendopo selain dari unsur TNI, Polri, juga pelajar dan masyarakat umum. Pada Kamis(9/3/2017) Pagi. 

Kegiatan donor darah tersebut masih dalam Rangkaian Hari Jadi Garut (HJG) ke-204 dengan mengangkat tema, “setetes darah anda sangat berguna bagi mereka”.

Kepala UPT Palang Merah Indonesia (PMI) Kab. Garut, Rahmat Wijaya saat ditemui disela-sela acara donor darah mengatakan, Selama ini yang paling besar menyumbangkan darah ke PMI Garut dari kalangan swasta, TNI, dan Polri, sedangkan pemohon darah yang paling besar yakni dari pasein Thalasemia. 

“Pendonor darah dari PNS jauh masih minim. Kesadarannya masih sangat kurang” katanya. 
Menurut Rahmat saat ini di Garut tercatat 275 pasein penderita Thalasemia. Dari jumlah itu setiap bulannya mereka membutuhkan darah tidak kurang dari 500 kantong darah. Sedangkan kebutuhan darah di PMI Garut setiap bulannya harus dibantu dari Kabupaten atau Kota termasuk dari provinsi Banteun dan DKI. 

“Misalnya begini, kalau di Garut setiap bulan rata-rata butuh 1.400 kantong, maka yang 400 kantongnya di dapat dari luar Garut. Bahkan, kami mencari darah itu hingga ke Banteun dan DKI Jakarta.” ucapnya. 

Oleh karena itu, Rahmat berharap, para PNS di Garut lebih aktif sebagai pendonor darah. Lanjut Rahmat, akibat banjir bandang sungai Cimanuk September tahun lalu, ada beberapa peralatan di Kantor PMI di Jalan RSU Garut rusak parah, meski beberapa peralatan sudah diganti dengan yang baru, tetapi di antaranya masih ada beberapa komponen peralatan pengolah darah yang masih belum lengkap. 

“Memang peralatan darah harganya mahal-mahal. Yang rusak akibat banjir pun diatas 4 miliaran. Tapi beberapa peralatan sudah ada yang nyumbang dan itu pun harganya mencapai Rp 2,5 miliar. Tetapi peralatan atau komponen yang satu lagi yang harganya sekitar Rp 1.8 miliar masih belum ada yang nyumbang.” ujarnya. (dra R)

BAGIKAN