​Ketangkasan Domba Garut Awali HJG Ke 204 Diikuti 260 Peserta

171

GARUT, (KF).-Sebanyak 260 ekor domba garut (ovis aries) dari beberapa Padepokan di Jawa Barat mengikuti adu ketangkasan di arena De Wisdom, Kampung Cimuncang, Rancabango, Kec. Tarogong Kaler, selama dua hari, Sabtu-Minggu (11-12/2/2017). 

Ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) DPC Kab. Garut, Saefuloh, mengatakan ketangkasan domba Garut ini dalam rangka menjaga tradisi sekaligus memperingati hari jadi Garut (HJG) ke 204. Dan juga dalam upaya menjaga budaya dan seni masyarakat Garut dalam melestarikan domba Garut. “Kegiatan ini dalam rangka ulang tahun Garut ke 204 yang boleh dikatakan tukang domba sayang ke Garut” kata Saefulloh di sela-sela acara, Minggu(12/2). 

Dia mengatakan, pesertanya dari Bandung, Sumedang, Cirebon, Cianjur, Tasikmalaya dan daerah lainnya dengan hadiah utama tiga buah sepeda motor. 
“Ketangkasan domba ini juga untuk melestarikan budaya, domba garut ini sebagai ikon Garut dan Jawa Barat. Jadi sekarang tidak ada istilah ngadu domba lagi, tetapi ketangkasan agar lebih bermartabat,” katanya. 

Saepuloh menyebut, acara yang digelar secara rutin, mingguan, bulanan, dan tahunan ini juga untuk mendorong perekonomian para peternak domba. Dampak dari kegiatan ini juga, kata dia, telah menguntungkan para pedagang kecil yang berjualan memadati kawasan arena ketangkasan. 

Salah seorang peternak domba dari Padepokan Ramasakti Garut, Uloh Saefulloh mengaku, jika domba menjadi juara selain akan menaikan pamor, juga harga.
“Kalau juara harga domba bisa mencapai diatas Rp 50 juta atau bahkan diatas Rp 200 juta an. Tapi kalau harga domba biasa rata-rata Rp 10 juta an,” ujarnya. 

Sementara itu, wakil bupati Garut, Helmi Budiman, memberikan apresiasi kepada HPDKI yang sukses menyelenggarakan acara Ketangkasan Domba Garut ini. Apalagi domba garut tahun 2017 ini kembali di undang Presiden ke Istana Negara. “Itu suatu kebanggaan bagi Garut dan Jawa Barat. Acara ini juga awal dari kegiatan hari jadi garut ke 204,” ucapnya. 

Saepuloh menambahkan, acara ketangkasan domba ini jauh dari praktek judi. Bahkan, sekarang ini oleh HPDKI aturanya pun terus disempurnakan. Hal ini penting agar ketangkasan domba lebih bermartabat lagi. “Kalau dulu kan istilahnya adu domba, tapi sekarang menjadi ketangkasan domba. Dulu domba di adukeun sa elehna, kalau sekarang kan di atur sebanyak 20 benturan, dengan tiga orang tim juri dan wasit lapangan. Kalau domba sudah terlihat goyah langsung dihentikan,” katanya. 

Selain itu, kata Saepuloh, ada lima kategori yang dinilai, di antaranya kesehatan, adeg-adeg (penampilan), teknik bertanding, teknik pukulan, dan keberanian. 

“Jadi kalau menang di arena belum tentu juara. Karena juara akan ditentukan oleh tim juri. Ketangkasan domba di bagi tiga kelas, A diatas 75 kg, kelas B 60-75 kg, dan kelas C 45-60 kg. Sekarang ini jurinya dari Bandung, Sumedang, dan Cianjur. Jurinya juga yang telah bersertipikat,” katanya. (Jay).

BAGIKAN