​Kisah Pilu Penjual Es Buah Yang Kehilangan Suami dan Anaknya Dalam Tragedi Banjir Bandang Cimanuk

163

 

Yuli Yulianti saat dijumpai dalam acara pemberian bantuan sosial di halaman panti Werdha, kecamatan Tarogong kidul kab.garut 


GARUT, (KF).- Tragedi Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Garut, Pada September 2016 tahun lalu, Rupanya masih menyisakan duka yang mendalam bagi para korban yang masih bisa selamat dari bencana yang sangat mengerikan tersebut.

Tercatat Banjir terbesar dalam sejarah Kabupaten Garut itu menelan 2.525 korban. Lebih dari 50 diantaranya merupakan korban jiwa, dengan menyisakan 16 korban yang belum ditemukan hingga saat ini. 

KoranFakta.com mencoba berbincang dengan salah seorang korban banjir bandang yang diakibatkan oleh luapan Sungai Cimanuk tersebut. Adalah Yuli Yuliani, wanita paruh baya berusia 32 tahun yang menceritakan pengalaman terburuk dalam hidupnya tersebut kepada KF,  Diiringi isak tangisnya yang tak henti, Yuli sapaan akrabnya memberikan kesaksiannya saat air bah mulai menggenangi rumahnya yang terletak di Kampung Cimacan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
“Jadi waktu pas kejadian itu siangnya saya sekeluarga baru saja menikahkan adik saya. Saya sama suami dan anak-anak masih sempat tertawa diacara nikahan itu, gaada firasat apapun, bahkan gak kefikiran bakal ada banjir segede itu,” ungkap Yuli, saat ditemui, Sabtu(04/03/2017) di Panti Werdha Garut, Jalan RSUD dr. Slamet, Kecamatan Tarogong Kidul.

Lanjut ia, saat dirinya hendak pulang kerumah di sore hari, hujan deras pun mengguyur wilayah rumahnya, Yuli menuturkan hujan tersebut berlangsung selama hampir lima jam lamanya hingga malam hari. Air turun tak seperti biasanya, volume airnya sangat tinggi dan turun sangat deras sekali.

“Pas saya udah sampe dirumah setelah nikahan ade saya, dirumah saya hujan, deras banget ada sekitar lima jam-an. Airnya itu gede-gede terus sangat deras,” katanya
Sekitar pukul 22.00 WIB saat itu, Selasa (20/09/2016), setelah hujan sedikit mereda, terdengar suara gemuruh air yang sangat kencang,namun Yuli mengaku warga sekitar tidak pernah panik dan seolah terbiasa dengan suara gemuruh air yang bersumber dari sungai, karena setiap hujan pun selalu ada suara gemuruh dari sungai.

“Sekitar jam 10 malem waktu itu, suara gemuruh air dari sungai itu kenceng, saya dan warga lain tidak panik karena setiap hujan turun air dari sungai sering mengeluarkan bunyi gemuruh. Namun saya sangat terkejut, ketika ingin melihat keluar, pas saya buka pintu, air langsung masuk ke dalem rumah saya,ada mungkin sekitar satu meteran,” Ujarnya Sambil terus meneteskan air mata.

Yuli yang merupakan seorang penjual es buah, di SDN Haurpanggung, Garut, Jawa Barat, terus menceritakan kisah pilunya. Sambil sedikit mencoba menahan tangisnya, Yuli berusaha untuk tetap tegar. Ingatannya mulai menajam, yang teringat, saat air mulai meninggi, Yuli yang saat itu berada di luar rumah, mencoba untuk kembali lagi ke rumah untuk membangunkan anaknya yang sedang tertidur lelap. Namun saat hendak masuk kedalam rumah, sang suami menghampirinya.
“Saat air sudah tinggi, hampir dua 1,5 meter lah, saya coba lari kedalam untuk membangunkan anak saya yang lagi tidur. Tapi pas saya coba lari, suami saya menyuruh untuk menunggu diatas saja,” kata Yuli.
Yuli pun langsung menuruti perkataan sang suami, dan langsung menuju tempat yang tinggi di pinggir jalan. Di tempat tersebut Yuli gelisah menunggu sang suami, Supriatna (34) dan Cika (5), namun keduanya tak kunjung datang. Tak lama berselang Yuli melihat sang suami dan anaknya berada di atap rumah, karena ketinggian air semakin bertambah dan putarannya pun semakin kencang, air justru menghanyutkan rumah Yuli bersama suami dan anaknya.

“Waktu itu air semakin tinggi, saya sempat lihat suami dan anak saya yang bungsu berada di atap rumah, mereka minta tolong, tapi kami gak ada yang berani nolong karena airnya semakin tinggi. Gak lama setelah itu terdengar suara kaya bangunan yang ambruk, ternyata rumah saya hanyut tersapu air bersama anak dan suami saya,” ungkapnya, sambil kembali menagis kencang.

Setelah mengetahui bahwa suami dan anaknya hanyut terbawa air, Yuli pun gencar melakukan pencarian atas keduanya, ia mengaku sering berkomunikasi dengan pihak terkait seperti BPBD, dan pihak Kepolisian. Hari demi hari pun dilewatinya hanya untuk mencari suami dan seorang anaknya. Sehari pasca banjir bandang tersebut,dirinya mendapat kabar bahwa anaknya Cika(5) berhasil ditemukan tak jauh dari tempat kejadian dengan kondisi sudah tak bernyawa.

“Sehari dari kejadian, saya dapat laporan dari petugas, katanya ada anak kecil yang ditemukan tewas. Mendengar kabar tersebut saya langsung ke Rumah Sakit untuk memastikan, dan benar saja dia Cika anak saya. Saat itu hati saya sakit sekali, saya juga sempat gak sadarkan diri,” ungkap Yuli sambil terus menangis.

Diakhir perbincangan , Yuli yang kini tinggal di Rusun Musaddadiyah Garut, Desa Jayaraga, Tarogong Kidul, Garut juga mengingat kembali saat-saat dimana dirinya terakhir kali bertemu dengan sang suami.

“Saat itu pas malam kejadian, suami saya pegang tangan saya, saya lihat wajahnya bercahaya, dia sempat berkata pada saya, katanya jangan khawatirkan mereka berdua, si bungsu (Alm.Cika) aa saja yang bawa. Saat itu saya tidak pernah berfikir akan kehilangan mereka berdua, mungkin maksud si aa si bungsu dia yang bawa kesyurga,” pungkasnya.

Kini Yuli mengaku sudah ikhlas menerima semuanya, pasalnya jasad sang suami pun sudah ditemukan tiga bulan pasca kejadian, di wilayah Kampung Bojong Larang, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut. Meskipun dirinya menyadari, sang suami dan anak bungsunya tak akan lagi pulang kerumah.(Tim)***

BAGIKAN