​Ohang dan Albino Jadi Magnet Pengunjung Taman Satwa Cikembulan

91

GARUT, (KF).- TAMAN Satwa Cikembulan di Kecamatan Kadungora langsung diserbu ribuan pengunjung sejak Hari H Idul Fitri 1438 H/2017, Minggu (25/6) paskaditutup untuk kunjungan wisata umum selama Ramadan lalu. 

Selain disuguhi atraksi tambahan, suasana kunjungan wisata di lembaga koservasi tersebut semakin meriah dengan dilepas kandangkannya dua ekor ular sanca kembang putih atau sanca batik (Python Reticulatus) albino berukuran besar di tengah areal taman bermain. 

Para pengunjung pun dapat berinteraksi langsung dengan satwa melata yang sudah jinak itu. Asisten Manajer Taman Satwa Cikembulan, Willy Ariesta mengatakan, pihaknya sengaja memperlihatkan dan melepas kedua ular itu untuk menambah daya tarik pengunjung. 

“Bahkan kami pun sempat menghadirkan komedian Ohang pada Kamis lalu. Alhamdulillah responnya positif. Pada hari itu puncaknya pengunjung hingga mencapai lebih dari seribu orang. Yang datang pun dari luar Garut banyak,” kata Willy, Senin (3/7/2017). 

Berdasarkan pantauan “KF” Senin kemarin, pengunjung mulai dari anak-anak hingga dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, tampak antusias memegang ular sanca albino jantan yang masing-masingnya berusia sekitar empat tahun tersebut. 

Mereka mengusap, dan berfoto selfie dengan ceria. Kendati beberapa di antaranya semula tampak ragu, dan takut-takut mendekatinya. Keberanian mereka kemudian muncul setelah penjaga satwa bersangkutan meyakinkan mereka akan keamanannya. 

Willy pun menambahkan, meningkatnya pengunjung selain pihaknya menghadirkan komedian Ohang dan mengeluarkan dua ekor ular sanca Albino, juga memperlihatkan kepada pengunjung untuk  menyaksikan pemberian pakan hidup terhadap satwa pemburu yang menjadi koleksi Taman Satwa. Yakni singa afrika (Panthera Leo), harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), dan buaya muara (Crocodylus Porosus). 

“Kami secara khusus memperlihatkan cara memberi makan pada hewan yang ada di TS Cikembulan. Biasanya kami memberi makan ke binatang itu pada malam hari, tetapi sekarang di rubah menjadi siang. Seperti memberi makan daging ke harimau, singa, buaya dan lainnya. Nah itu juga menjadi magnet pengunjung disamping Ohang dan Albino,” ujarnya. 

Dengan cara ini, lanjut Willy, pengunjung kan jadi tahu bagaimana misalnya singa berburu mangsanya. Memberikan bebek hidup, lalu bagaimana singa berkejar-kejaran dengan bebek yang melarikan diri ke kolam. 

“Bebek kan ahli kalau di air, memangsa bebek juga bisa berlangsung setengah jam. Yang berburu itu kan singa betinanya. Sedangkan yang jantan hanya diam. Tapi kalau si betina sudah dapat buruannya, si jantan baru turun ikut berebut, bahkan makannya paling duluan,” jelas Willy. 

Terkait dibebaskannya ular sanca, Willy menjamin kalau hal itu sudah aman bagi pengunjung. “Ini aman. Selain sudah kita beri makan masing-masing dua ekor kelinci terlebih dahulu, sanca ini juga memang sehari-harinya lebih banyak diam. Tidak beringas. Petugas kita juga terus mengawasinya,” katanya. 

Menurutnya, pelepasan kedua sanca albino di luar kendang itu bertujuan selain agar ada interaksi dengan pengunjung langsung, juga diharapkan dapat menghilangkan trauma pengunjung terhadap sejumlah hewan melata khususnya ular. 

Sehingga para pengunjung nantinya dapat lebih mengenali lagi dunia satwa melata yang dikenal kuat dengan lilitannya itu. 

“Kalau soal pengunjung ada peningkatan yang lebih signifikan bila dibanding tahun lalu. Sekarang setiap hari tidak kurang dari seribu orang pengunjung datang kesini. Terutama saat ada Ohang lebih dari seribuan,” ujarnya. (Indra R)

BAGIKAN