​Warga Cijambe Berlebaraan Dengan Rakit

191
Ket Foto: Warga Saat Akan Melintasi Wilayah Kampung Dengan menggunakan rakit

GARUT, (KF).-  BANJIR bandang Sungai Cimanuk pada September 2016 silam, yang menyebabkan jatuhnya puluhan korban jiwa dan meluluhlantakan harta benda, termasuk hancurnya sasak gantung penghubung Kp. Cijambe, Kecamatan Karangpawitan dan Kp. Patrol, Kecamatan Banyuresmi, kabupaten Garut yang dibangun oleh Pemerintah Swedia. Pasca banjir tersebut, lalulintas warga dari kedua kampung tetsebut hanya bisa diangkut rakit untuk menyebrangi Sungai Cimanuk yang lebarnya lebih dari 50 meter itu.

Begitupun saat lebaran Iedul Fitri 1438 H ini. Warga yang akan bersilaturahmi hanya  bisa menaiki rakit sebagai satu-satunya alat transportasi, tak terkecuali warga yang membawa serta kendaraan roda duanya. Mereka yang membawa kendaraan roda dua ke atas rakit harus bersusah payah menyebrangi sungai tersebut, dengan dibantu warga lainya.” Balik deui ka baheula make rakit hararese,” ujar Otang (60) yang biasa meyebrangkan warga dengan rakit.

Warga Cijambe lainnya, Bandi (63) mengungkapkan, kalau pemerintah Swedia akan kembali membangun sasak tersebut dalam waktu dekat.” Moal lami deui ge dibangun jambatan teh ku si bule deui, da dana ti pemerintah 400 juta mah moal cukup atuh,” katanya.

Seperti pernah diberitakan media, pemerintah RI berencana membangun kembali jembatan yang hancur akibat banjir tersebut dengan dana dari Kementerian Dalam Negeri sekitar Rp. 400 jutaan lebih. Namun hingga kini rencana tersebut tak kunjung direalisasikan. Padahal warga sangat berharap bantuan tersebut bisa dikucurkan, untuk dana pendamping pada pembangunan kembali jembatan yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Swedia itu.

” Kalau dulu hanya bantuan tenaga saja. Sekarang itu untuk batu, pasir, semen dan ongkos angkut harus disediakan oleh warga di sini,” terang Anshor (72) menirukan ucapan orang Swedia yang jadi pelaksana proyek jembatan pertama, yang biasa disebut warga Cijambe si “Bule”. (Jay).

BAGIKAN