70 Persen Lahan Pertanian Diwilayah Garut Mengalami Kekeringan

222
Ket Foto : Istimewa (net)

GARUT, (KF).- Akibat musim kemarau yang berkepanjangan dalam Dua bulan terakhir ini, sebanyak 70 persen lahan pertanian yang ada di selatan Garut mengalami kekeringan, hal itu diungkapkan bupati Garut, H.Rudy Gunawan.

“Air untuk lahan pertanian memang sudah sulit. Tapi kalau untuk kebutuhan rumah tangga masih ada,” ujar Rudy kepada sejumlah wartawan Sabtu (27/7/2019).

Menurut dia, sulitnya air untuk lahan pertanian ini, karena sungai-sungai yang menjadi sumber untuk mengairi sawah saat ini sudah kering.

“Irigasi dari sungai semuanya mengering, jadi tidak ada lagi sawah yang teraliri air,” terangnya.

Dia menerangkan, dari hasil pemantauan dan laporan yang masuk, wilayah yang lahan pertaniannya mengering mulai dari Pameungpeuk, Cikelet, Cibalong, Cisompet, Mekarmukti, Bungbulang, Pakenjeng, dan Caringin.

Ia menyebut, meski begitu warga di selatan mengaku telah terbiasa. Kebanyakan lahan pertanian merupakan tadah hujan. Namun irigasi dari sungai juga jadi salah satu sumber air.

“Sudah minim sumber mata air di gunungnya. Ada kerusakan hutan, jadi perlu ditanami lagi pepohonan,” ujarnya.

Pemkab pun akan membantu petani yang mengalami kekeringan. Mulai dari pompanisasi sampai pemberian bibit.

“Cuma untuk daerah yang sulit air, agak susah untuk pompanisasi. Tapi tetap diusahakan agar ada air ke lahan mereka,” katanya.

Rudy menuturkan, musim kemarau diprediksi akan terjadi hingga bulan Oktober. Selain untuk lahan pertanian, Pemkab juga rutin mengirimkan air bersih ke permukiman warga.

“Kemari ke Cigedug kami sudah kirim air bersih. Beberapa kecamatan juga sudah minta. Sudah saya intruksikan PDAM agar mengirim air ke warga,” paparnya. (*)

Editor : Indra Ramdani

BAGIKAN