Aparat Hukum Dituntut Tegas Terhadap Perusak Hutan

157

SINGAJAYA, (KF).- Warga Desa Pancasura, Kecamatan Singajaya menyesalkan tingkat kerusakan hutan di daerahnya yang terbilang tinggi. Mereka meminta perhatian pemerintah karena jika tidak, dikhawatirkan menimbulkan bencana.

Menurut tokoh ulama sekaligus tokoh masyarakat Desa Pancasura, Najmudin (52), kerusakan hutan yang terjadi di daerahnya itu, sudah berlangsung lama. Namun hingga kini hal itu terkesan dibiarkan dan bahkan tingkat kerusakannya kian parah.

“Kami sangat menyesalkan kerusakan hutan yang kian hari kian parah terjadi di daerah kami. Ini sudah berlangsung cukup lama dan sayangnya terkesan dibiarkan,” ujar Najmudin.

Menurut Najmudin, jika hal ini terus dibiarkan, dikhawatirkan dapat menimbulkan bencana besar yang ujung-ujungnya membahayakan warga. Ancaman yang terjadi bisa saja berupa longsor atau banjir bandang akibat kurangnya tahanan untuk menahan air ketika musim hujan.

Saat ini, tambahnya, dampak dari kerusakan hutan itu sebenarnya sudah dapat dirasakan warga. Sudah bertahun-tahun pasokan air di beberapa daerah sudah mulai berkurang. Akibatnya saat musim kemarau, warga di sejumlah daerah mulai kesulitan air padahal dulu hal ini tak pernah terjadi.

“Musim hujan pun, kami bisa merasakan dampak dari kerusakan hutan yang terjadi. Kalaupun pasokan air tidak kurang, akan tetapi air tidak lagi sebening dulu. Air kelihatan keruh karena telah bercampur dengan lumpur dan tanah yang tergerus,” kata Najmudin.

Kepala Desa Pancasura, Saefuloh A Ridho, membenarkan terjadinya kerusakan parah pada hutan yang berada di wilayahnya. Sekitar dua hektare hutan lindung yang berada di Blok 86 kawasan Gunung Lumbung, kini dalam kondisi kritis.

Dikatakan Saefuloh, kerusakan hutan yang terjadi di blok itu akibat maraknya alih fungsi lahan, dimana hutan dijadikan sawah dan perkebunan masyarakat. Ironisnya lagi, pengrusakan hutan itu dilakukan oleh orang-orang yang berdomisili di luar Desa Pancasura.

Sebagai upaya untuk menghijaukan kembali kawasan hutan yang telah rusak, diungkapkan Saefuloh, belum lama ini pihaknya bekerja sama dengan beberapa pihak, telah melaksanakan penanaman pohon. Ada sekitar 6000 pohon yang ditanam di lokasi hutan yang rusak, di antaranya pohon mahoni, jabon, picung, dan caringin.

“Kegiatan penanaman pohon yang belum lama ini kita lakukan merupakan kerja sama dengan beberapa pihak di antaranya Perhutani dan grup motor The Gaduns. Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari pihak MUI desa,” ucap Saefuloh, Jumat (13/1/2017).

Diakui Saefuloh, selama ini pihaknya bersama MUI seringkali mensosialisasikan tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan. Sosialisasi biasanya dilakukan di sela pengajian DKM dan pengajian rutin desa.

Saefuloh berharap ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum untuk menindak para perusak hutan di daerahnya. Karena menurutnya, selama ini aksi pengrusakan hutan itu terkesan dibiarkan padahal
sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.
KRPH Perhutani Cikajang, Iman Faturohman, mengaku sangat terbantu dengan program penanaman pohon yang dilakukan pihak Desa Pancasura dan MUI setempat belum lama ini. Iman berharap kegiatan tersebut bisa mengembalikan fungsi hutan atau paling tidak meminimalisir tingkat kerusakan hutan akibat maraknya alih fungsi lahan.(Jay).

BAGIKAN