Atlet Potensial Garut Akan Bela Daerah Lain Jika Pemkab Garut Tak Segera Kucurkan Dana BK

48

Wartawan: Jay AS

GARUT, (KF) – Jika Pemerintah Kabupaten Garut tak segera mengucurkan dana untuk babak kualifikasi (BK) Porda yang akan dimulai pada tanggal 07 hingga akhir Desember 2017 mendatang. Maka Ratusan atlet berpotensi menyabet medali mas terancam tak bisa ikut berkiprah pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat yang akan dilaksanakan di Kota Bogor pada tahun 2018.

Karenanya, puluhan pengurus cabang olahraga (cabor) mengaku, gelisah lantaran atlet binaannya terancam tidak bisa ikut Porda. Maka bukan tidak mungkin, atlet-atlet unggulan tersebut akan hijrah untuk membela daerah lai, jika dalam waktu dekat ini tak ada sinyal positif dari Pemda Garut.

” Saya amati Pemkab Garut tidak ada perhatian pada atlet Porda ini. Kalau saya berharap tidak ikut babak kualifikasi. Supaya saya bebas menjual atlet ke manapun. Ada beberapa daerah, seperti Papua yang siap membeli atlet tarung derajat dari Garut ini, untuk diterjunkan di PON. Kami akan tunggu dalam dua, tiga hari ini, apakah Pemkab Garut mengeluarkan dana bantuan untuk BK, atau tidak. Jika tidak, maka kami bebas menjual atlet ke manapun,” ujar pengurus Cabor tarung derajat, Jajang Al Masarin, yang juga mantan Anggota DPRD Garut.

Ketua Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Kabupaten Garut, Rizal Syam, yang juga pengurus KONI Garut, mejelaskan, sedikitnya ada 24 Cabor yang belum melaksanakan BK. Dari 24 Cabor tersebut, berpotensi mendulang 20 medali Emas, seperti pada Porda di Bekasi Tahun 2014 lalu. Saat itu Garut masuk 11 besar, dengan dana Porda sebesar Rp. 6 miliar.

“Anggaran untuk BK yang digadang-gadang dari anggaran perubahan. Pas dicek, ternyata tidak ada. Kawan-kawan dari pengurus cabor, juga KONI sudah mempertanyakan kepastian (anggaran untuk kebutuhan BK Porda Jabar, red) di perubahan. Kita ajukan Rp 1,3 miliar, dan sudah diverifikasi. Namun sampai hari ini jawaban resmi Pemda gak ada. Apakah ditolak, atau memang gak ada atau ada? Sampai hari ini uang tambahan gak ada, untuk BK itu membutuhkan rata-rata anggaran 20 juta sampai 70 juta rupiah, dikali 24 cabor yang belum BK. Padahal semua yang belum ikut babak kualifikasi ini, merupakan cabor unggulan berpotensi mendapatkan emas. Maksimal kalau sampai desember 2017 tidak ikut BK, dianggap mengundurkan diri,” kata Rizal, saat ditemui di Sekretariat KONI Garut, Senin (04/12).

Hal senada juga diungkapkan sejumlah jajaran pengurus cabang olahraga lainnya. Pengurus Cabor Gulat, Imat Hikmat, mengatakan, dirinya merasa miris, gelisah, sedih sekaligus marah, dengan kondisi saat ini. Pasalnya, beberapa atlet potensial Garut yang sudah dipupuk dengan berlatih dua tahun terakhir ini terancam batal mengikuti kejuaraan di Porda Jabar, karena masalah anggaran.

“Untuk gulat seminggu lagi akan ikut BK, kalau tidak ada bantuan, kami akan menanyakan nasib kami ke Pemda, DPRD. Sayanglah kalau sampai gagal lolos ke Porda. Mereka itu atlet potensial semua, kita targetkan raih 5 emas karena kita yakin dengan kemampuan atlet atlet kita. Saking cintanya ke Garut, ada kota lain sudah menawari atlet ini, istilahnya dibeli untuk membela kota lain. Tapi mereka tetap setia untuk Garut, tapi ternyata bagaimana dengan kondisi seperti ini,” kata Imat.

Apabila ratusan atlet ini gagal berkompetisi di Porda nanti. Hal ini dinilai akan menjadi tamparan keras untuk Garut, mulai dari Pemerintah, Pelatih, atlet, keluarga atlet dan para pecinta olahraga yang sudah berjuang dan mendukung agar mampu menorehkan tinta emas dengan berlatih hingga bertahun-tahun lamanya.

“Latihan untuk persiapan ini jauh – jauh hari sejak tahun 2014 dibina, menggunakan anggaran dari masing-masing karena motivasi atlet demi nama besar Kabupaten Garut. Sekarang saatnya sudah memetik hasil usaha sekaligus ingin membawa nama Garut, keinginan kita terkendala dengan tidak adanya bantuan terutama dari pemerintah,” kata Imat didampingi Pengurus IPSI Kabupaten Garut, Agus M dan sejumlah pengurus KONI lainnya.

Editor: Van’s

BAGIKAN