Baintelkam Polri, Sampaikan Potensi Berbahaya Dari Ancaman Kedaulatan Bangsa

363
Ket Foto : Kombes Pol, Ratno Kuncoro, S.Ik, M.Si saat ditemui sejumlah media.

Koran-Fakta.Com (KF).- Indonesia sangat berpeluang menjadi negara besar yang diperhitungkan dunia, karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa besar, sebagai modal untuk mensejahterakan masyarakat dan untuk berkompetisi dengan negara maju lainnya. Namun demikian, Indonesia harus meminimalkan terjadi kasus-kasus konflik kekerasan, kasus radikalisme dan terorisme, seperti yang terjadi di beberapa belahan dunia saat ini.

Permasalahan konflik di Indonesia harus ditekan seminimal mungkin, karena jika tidak, akan mempengaruhi kelancaran jalannya pembangunan. Yang terjadi saat ini adalah perang perebutan pengaruh dan sumber daya antar negara besar dunia, sehingga Indonesia harus menyiapkan diri agar tidak menjadi sasaran perang siber dan konflik antar negara.

Dalam kesempatan menjadi salah satu narasumber utama dalam acara seminar nasional Bedah Radikalisme Diskursus Penguatan Paham Kebangsaan Bagi Mahasiswa Calon Guru yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Keguruan Indonesia (MKI) di Aula Pendopo kabupaten Garut, Sabtu (15 Februari 2020) Kasubdit Baintelkam Polri, Kombes Pol, Ratno Kuncoro, S.Ik, M.Si menyampaikan bahwa kita saat ini sudah harus mengantisipasi perkembangan revolusi industri 4.0 serta society 5.0, karena kalau tidak, Indonesia akan tertinggal dengan negara lain yang lebih siap.

“Kejayaan Indonesia sudah di depan mata, tapi harus diraih dengan kerja keras dan kerja cerdas.” Katanya

Menurutnya masa depan Indonesia penuh harapan, tapi juga penuh tantangan besar. Tantangan yang dihadapi Indonesia semakin berat di masa depan.

Pantauan media saat pemaparan materi, narasumber bisa menyatakan demikian karena narasumber sering bertugas di beberapa wilayah yang dilanda konflik, termasuk konflik yang timbul dengan mengatasnamakan perbedaan agama, suku, ras dan antar golongan, seperti di Bosnia, Timur Tengah, Poso, Papua.

Narasumber juga banyak melakukan kunjungan dinas ke berbagai negara, baik negara maju, negara berkembang maupun negara yang masih tertinggal, di mana narasumber bisa mempelajari hal-hal yang membuat suatu negara bisa berkembang menjadi negara maju dan besar, dan juga mempelajari mengapa suatu negara sulit untuk berkembang karena selalu menjadikan perbedaan sebagai konflik, bahkan konflik kekerasan.

Sampai saat ini, Kombes Pol, Ratno Kuncoro, S.Ik, M.Si disamping bertugas kantor di mabes Polri, juga  tergabung dalam Satgas Nusantara, sebuah satuan tugas yang dibentuk Kapolri, untuk memantau, mencegah dan menangani konflik yang terjadi di Indonesia. Satgas Nusantara terbukti berhasil mengelola konflik yang timbul saat Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

“Segenap elemen bangsa harus mengantisipasi, mencegah dan menangani ancaman gangguan kamtibmas, khususnya yang bersumber dari ancaman konseptual, yakni dari upaya terencana yang dikembangkan oleh pihak tertentu dengan tujuan menciptakan kondisi yang tidak kondusif terhadap kamtibmas dan gangguan pembangunan nasional,” Paparnya.

Lanjut disampaikan narasumber, perkembangan permasalahan radikalisme dan terorisme, dimulai dari adanya intoleransi pasif, intoleransi aktif (ujaran kebencian, kebijakan diskriminatif, pelayanan publik diskriminatif), lalu berkembang menjadi radikalisme (intoleransi aktif disertai ancaman kekerasan), kemudian kasus terorisme (yang merupakan kejahatan kemanusian).

“Agama sebenarnya mengajarkan bagaimana memanusiakan manusia, tanpa memandang asal usul seseorang.” sampainya

Lanjut Ia, Para pendiri dan tokoh bangsa telah banyak menyuarakan pentingnya menjaga NKRI, Kebinnekaan, saling menghargai adanya perbedaan. Jadikan perbedaan sebagai rahmat Allah SWT.

Lanjutnya lagi, “Kelompok radikal dan teror tidak jarang mengatasnamakan agama, mengutip pernyataan Ken Setiawan dari NII Crisis Centre. Cara mengidentifikasi radikalisme :

1) . Perubahan signifikan pada sikap mental yang mendua (split personality), karena harus hidup dalam dua dunia yang berbeda.

2) Meninggalkan keluarga, sekolah atau kuliahnya karena kegiatan yang intens.

3) Cenderung menjadi pribadi tertutup dan tertekan jiwanya, manipulatif, serta minim empati.

Tips mengatasi radikalisme :

1) . Pelajari agama dengan paripurna kepada ahlinya.

2) . Kenali modus perekrutan gerakan radikal.

3) . Tolak dengan tegas bila mulai diajak kajian yang sembunyi – sembunyi.

4). Berdialog / lapor kepada orang lain bila mendapatkan materi yang tidak dimengerti.

5). Kritis walaupun dalam konteks agama, agar tidak mudah tersugesti, yang merupakan pintu awal perekrutan. 

Upaya menanamkan nasionalisme :

1) . Membentuk wadah untuk anak muda

2) . Berdayakan komunitas 

3). Pendekatan kearifan lokal

4) . Perbanyak kompetisi bakat

5) . Hidup berkualitas.

Narasumber juga menjelaskan tentang bahaya Hoax dan ujaran kebencian, termasuk upaya bersama dalam menanganinya sebagaimana fungsi narasumber untuk memberikan penjelasan atas sub materi yang diusulkan panitia penyelenggara yakni, ”Membersihkan Sarang Terorisme Dalam Dunia Pendidikan”.

Dalam pantauan media, antusiasme peserta begitu tinggi dalam menyimak dan bertanya jawab tentang materi yang diseminarkan. (***)

Editor : Indra R

BAGIKAN