Banyaknya Labu Darah Kadaluarsa, Wadir Pelayanan RSU dr. Slamet Mengaku Tidak Tau

188
Ket foto: Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr.slamet Garut dr.Een Suryani

Wartawan : Indra R

GARUT, (KF).- Sebelumya diberitakan pada Kamis (19/10). Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Garut, mempertanyakan kepada pihak RSU dr. Slamet Garut, perihal adanya teguran yang dilayangkan oleh pihak Palang Merah Indonesia ( PMI) Pusat terhadap RSU dr. Slamet perihal adanya kerjasama antara RSU dr. Slamet dengan PMI Kabupaten Bandung,

“Selama ini, di RSU dr. Slamet Garut sudah ada yang namanya Bank Darah, kenapa harus ada kerjasama dengan PMI Kabupaten Bandung,” kata Asep De Maman Ketua Komisi D.

Dikatakannya untuk yang menyurvei labu darah ke RSU dr. Slamet Garut, untuk tahun ini bukan dari PMI Kabupaten Garut, melainkan dari PMI Kabupaten lain, sehingga untuk labu darah di Kabupaten Garut menurut data dari PMI Garut sekitar 734 labu darah yang kadaluarsa.

“Akibat adanya kerjasama RSU dr. Slamet Garut dengan PMI Kabupaten Bandung , maka banyak labu darah yang kadaluarsa di PMI Garut, karena RSU dr. Slamet untuk tahun ini, sudah tidak lagi berkerjasama dengan PMI Garut,” ujarnya.

Ditempat terpisah, Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr.slamet Garut dr.Een Suryani, saat ditemui diruang kerjanya, pada, Senin(23/10) siang mengatakan, pungsinya bank darah hanya merencanakan kebutuhan rumah sakit akan perlunya darah, kemudian nanti dia akan mengajukan ke PMI.

” Yang berhak menyediakan darah itu yang berkewajiban menyediakan darah itu hanya PMI, kecuali kalau rumah sakit sudah membentuk UTD,” Katanya

Lanjut dr.Een sudah sejak lama pihaknya bekerja sama dengan pihak PMI kabupaten Garut, bahkan sejak PMI di Garut ini berdiri sudah bekerja sama, nah dan kenapa harus bekerja sama dengan PMI kabupaten Bandung, Een pun menjelaskan diakhir tahun kemarin pasokan atau pengiriman dari PMI Garut tidak sesuai dengan yang diminta BDRS, “misalkan BDRS minta 200, pengiriman nya cuman 100, terus kebutuhan kita kan berarti kurang, sehingga ada pasien yang tidak kebagian yang lebih membutuhkan. Sementara kita kan komunikasi dengan PMI Garut kan kosong dan menyarankan ke Bandung, itupun kata petugas BDRS yang pada saat itu bertugas.” Ujar dr.Een.

Dikatakan dr.Een Awalnya terjadi kerjasama dengan PMI kabupaten Bandung, karena sering terjadi kekosongan stok darah yang dibutuhkan di PMI garut, karena kita pikir UTD Garut tidak mampu menyediakan, pihaknyapun berkonsultasi dengan pihak BDRS, serta dokter penanggung jawab.

“PMI kabupaten Garut harusnya mengusahakan ketersediaan darah yang dibutuhkan oleh rumah sakit, nah kalau tidak seperti itu intinya keluarga pasien tidak boleh disuruh ke Bandung, harusnya orang PMI yang datang ke Bandung untuk mengambil darah, bukannya keluarga pasien, namun ini malah banyak keluarga pasien yang langsung mengambil darah kesana. Sementara disana pasien harus beli tidak bisa hanya mengambil saja (disana pasien harus beli-red),” Katanya.

Terkait dengan banyaknya Labu darah yang kadaluarsa, dr. Een mengaku tidak tau, ” yang saya tau darah itu umurnya pendek, sejak diambilnya darah itu dia hanya punya waktu beberapa bulan, untuk bisa dipake lewat dari itu darah itu sudah tidak bisa dipake lagi.” Tutupnya.

Editor : Iwan

BAGIKAN