Dampak Wabah Virus Corona,  Pedagang Di Kota Tasik Mulai Menjerit

300

Koran-Fakta.com (Kota Tasikmalaya)  Pasca Pengumuman dan Anjuran Walikota Tasikmalaya agar Masyarakat dan pedagang untuk selalu waspada akan bahaya ancaman Virus Corona, sebetulnya sudah paham dan mengerti betapa bahayanya ancaman Virus Corono Covid-19.

Apalagi kini  sebagian besar masyarakat harus membatasi diri agar tidak keluar rumah jika tidak penting, sebagaimana anjuran pemerintah. Beberapa ruas jalan di seputaran Kota Tasikmalaya, biasa padat kendaraan kini sudah mulai sepi. Ruang ruang publik seperti alun alun, pasar termasuk komplek Olahraga Dadaha, toko toko kini sudah terlihat sepi pengunjung. 

Seperti halnya masyarakat pedagang kecil dan usaha warungan warga lainnya sangat terasa sekali dampaknya, apalagi jika pemerintah betul betul akan memberlakukan lockdown (tidak keluar rumah).

“Coba saja bapak pikir, kita tahu dan paham bahaya wabah virus corona, tetapi  bagi kami para pedagang kecil ini akhirnya harus memaksakan keluar rumah untuk berjualan, kalau tidak begini, anak isteri dirumah mau makan apa sementara kebutuhan sehari hari tidak boleh berhenti, ” ujar Hendi Ketua Komunitas Paguyuban Pedagang Dadaha blok Ayun kepada koran-fakta.com, Minggu (22/3/2020) siang tadi.

Bahkan masih kata Hendi, beberapa pedagang lainnya pun kini menjerit karena usaha mereka penghasilannya anjlok drastis pasca wabah virus corona, apalagi ditambah himbauan Pemerntah untuk tidak keluar rumah jika tidak penting selama 14 hari,  bahkan 91 hari kedepan.

“Selain kebutuhan sehari hari, belum lagi ada hutang yang harus kami bayar. Sementara penghasilan kami sehari biasa Rp.400 ribu kini anjlok hanya Rp.30 ribu perhari, ” keluh pedagang ini dengan wajah mimik memelas.

Keluhan lain pun dirasakan Jamil (65) sopir kendaraan wisata odong odong. Bapak dengan rambut beruban ini mengaku setiap harinya kini hanya mendapat penghasilan Rp. 20 ribu yang sebelumnya bisa mendapat Rp 500 ribu.

“Kita mah siap saja ga keluar rumah untuk usaha, tapi pemerintah harusnya peduli juga dengan nasib ekonomi kita, minimal kita dikasih konensasi Rp.150 ribu perharinya, apalagi sebentar lagi bulan Ramadhan dan menghadapi lebaran, dimana kebutuhan ekonomi bakal meningkat, ” ucap Jamil yang diamini pedagang lainnya.

Kalau kita tidak memaksa keluar rumah walaupun pemerintah menghimbau untuk tidak keluar rumah, kita mau makan apa, mending PNS atau pegawai tidak keluar rumah mereka mendapat gaji penghasilan tetap perbulannya, sementara kita hanya mengandalkan pemasukan dari berdagang sehari hari, tambah Oos(65) pedagang lengko yang setiap harinya mangkal di Dadaha.

Kini masyarakat khususnya para pedagang kecil mulai merasakan ketakutan dan kekhawatiran, bahkan menjadi sebuah dilema apalagi ini menyangkut isi perut dan kebutuhan. Bukannya mereka tidak takut dan tidak paham tentang himbauan pemerintaj tentang bahayanya virus corona, tetapi dalam benak mereka kini ada rasa ketakutan yang berlebihan, bagaimana jika anak dan isteri tidak bisa makan dirumah akibat mereka tidak bisa berjualan diluar mengingat masyarakat merasa takut dan khawatir keluar rumah, silahkan pikirkan nasib kami para pedagang ini oleh pemerintah, pungkas para pedagang lainnya kepada wartawan. (Tono Efendi)

Editor: J Wan

BAGIKAN