Dengan Kostum Buatan Hilman Pirmansyah, Komunitas Angklung Jadi Runner Up 1 Karnaval Kemerdekaan 2017

118
Ket foto: Kostum Yang dibuat tangan kreatif Hilman Pirmansyah

GARUT, (KF).-Persoalan kompleks yang melanda negeri ini bukan saja disebabkan oleh permasalahan politik, ekonomi, sosial. Namun hal yang paling mendasar adalah hilangnya jati diri bangsa Indonesia. Hal tersebut dapat kita lihat dari paradigma masyarakat terhadap tradisi dan budaya sekitar, yang mulai acuh dan nilai budaya daerah tergeserkan oleh budaya modern.

Hal tersebut diungkapkan Hilman Pirmansyah seorang Guru Madrasah Putra daerah Asli Garut Jawa Barat, menurut Hilman budaya yang membuat bangsa memiliki kepribadian dan dengan budayalah manusia menjadi besar.

“Dengan budayalah kita besar dan dengan budaya pula bangsa kita memiliki kepribadian dan karakter yang khas. Budaya daerah merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang sangat berharga. Sehingga keberadaannya sangat memerlukan perhatian yang khusus dari masyarakat atau pemerintah daerah setempat untuk tetap menjaga dan melestarikan,” Katanya.

Lanjut hilman siswa sebagai elemen pemuda digolongan masyarakat, harus mampu melihat realita ini dan mengangkat nilai-nilai budaya daerah tesebut menjadi suatu kekayaan budaya bangsa. Hilman terpukul hatinya disaat angklung di klaim oleh negara tetangga sebagai alat musik asal mereka.

“Banyak yang marah mengujat negara tetangga tapi mereka tidak sadar anak-anak kita pegang angklung aja gak pernah apalagi memainkannya, selain itu ketika tahun 2013 saya nganter anak-anak ke sabuga memperingati hari anak nasional, disitu kami disuguhkan oleh penampilan musik angklung. Menarik nya angklung tersebut dimainkan oleh anak-anak disabilitas, video nya masih saya simpan sampe sekarang,” Ujar Hilman.

Hilman seorang PNS Muda MTSN 1 Kota Bandung itu merinding saat merekam video tersebut, dalam hatinya hilman bertanya, ” Kok bisa dan mampu yah mereka memainkan musik angklung, padahal dengan segala keterbatasan nya, semenjak itu saya bertekad untuk melangkah dengan kerja nyata, dengan membina siswa-siswi untuk belajar seni,” Ujar Hilman

Lanjut hilman dirinya mengadakan acara pagelaran seni kolaborasi yang menampilkan seluruh cabang seni. Setelah terhimpun barulah di tahun 2013 mendirikan komunitas angklung walau dengan keprihatinan karena tidak ada pelatih, tapi kami tetap berusaha merawat komunitas ini.

Ket foto: Istimewa

Aida Ratu (22) menambahkan bahwa di tangan pak hilman komunitas angklung mendapat beberapa penghargaan dan prestasi di bidang seni Seiring perjalanan, Ngariung Angklung tidak hanya menekuni seni musik saja tetapi berkembang menjadi seni helaran, karnaval, festival yang didalamnya terdapat seni musik, seni suara, seni tari dan seni-seni lainnya.

Lebih jauh dikatakan, ditangan pak Hilman kain yang nilainya tak seberapa bisa menjadi nilai kain yang bernilai seni tinggi, dengan kostum buatannya setiap kali festival atau Karnaval kostum buatan pak hilman bisa mencuri perhatian banyak orang.

” Selain angklung pak Hilman membuat kostum carnaval yang terbuat dari busa ati dan limbah kain dan selalu entah bagaimana mana pembuatan nya saya juga heran, ditangan pak Hilman kain yang bisa disebut limbah bisa berubah menjadi berkah sehingga selalu mendapat juara,” Ungkap Aida.

Aida memaparkan. Berbagai helaran telah diikuti baik tingkat kota dalam, “Milangkala Kota Bandung, Juara 1 Bandung Light Fest 2015 , tingkat provinsi, Juara 2 Jabar Ngagaya 2016, Tingkat Nasional dalam kemilau Nusantara 2014, Juara 1 Asian African Carnival 2016 dan Top 10 Caruban Carnival 2017, Juara 3 Asian African 2017 dan Runner Up 1 Karnaval Kemerdekaan 2017,” Paparnya.(Indra R)

BAGIKAN