DLH: Garut Ada Pada Level Darurat Sampah

136

Jurnalis: J Gunawan

GARUT, ( KF )- Persoalan sampah di perkotaan tak kunjung selesai, Khususnya Kabupaten Garut dengan meningkatnya kepadatan penduduk membuat konsumsi masyarakat pun tinggi. Di sisi lain, masih banyaknya kurangnya pemahaman serta akan kesadaran dari bahayanya sampah.

Sekretaris DLH ( Dinas Lingkungan Hidup), Kabupaten Garut, Guriansyah mengatakan, Volume sampah di Kab Garut pertahunnya bertambah 7 sampai 11 persen, itu diakibatkan bertambahnya jumlah penduduk, selain itu moments tertentu seperti even-even, CFD dan Hari Besar lainnya,

” intinya kegiatan yang mengundang banyak massa, konsukwensinya menimbulkan produksi sampah bertambah, “ujarnya pada media.

Sampah ini ada dua jenis yang pertama Sampah Organik dan non organik. Sampah Organik ini menepati peringkat tertinggi dan terbesar sekitar 78 persen. Untuk mengurangi semua itu idealnya, setiap rumah tangga ini bisa mengelola sampah Organik ini, yaitu dengan cara konsep 3R (Reduce, Reuse dan Reycle).

“Kalau saja , minimalnya 15 persen warga Garut melakukan 3R ini, maka akan mengurangi volume pembuangan sampah ke TPA Pasir Bajing,” ucapnya.

Ia menjelaskan, Mulai tahun lalu itu Garut telah ada pada lavel darurat sampah, kalau kita perhatikan Tempat pembuangan Akhir (TPA) Pasir Bajing sebenarnya secara teoritis itu udah pada lavel usia sudah lewat penggunanya ,

” TPA Pasir Bajing dibuka itu tahun 1983, berdasarkan kajian ilmiah dokumen Lingkungan Hidup itu tahun 2014, TPA Pasir Bajing udah berakhir usia layak pakainya,”paparnya.

Menurutnya, Karena mencari TPA ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, sehingga kita optimalkan TPA pasir Bajing, dan berharap pada rencana keberadaan TPPAS Legok Nangka yang ada di jalan Nagreg Kab. Bandung. Maka kita berharap timbunan sampah bisa dibuang ke TPPAS Legok Nangka, karena kita sudah menandatangani Mou dengan pemerintah Provinsi Jabar, terkait dengan pembuangan sampah ini.

” Sehingga kita masih menggantung kan pada TPA pasir Bajing, kita lakukan perluasan tanah yang tadinya seluas 8,6 hektar sekarang menjadi sekitar 12 hektar. Itu salah satu upaya kami untuk penggunaan TPA Pasir Bajing, sehingga usianya penggunaan nya bisa diperpanjang, ” ungkapnya.

Ini adalah kewajiban kita semua baik pemerintah maupun semua elemen masyarakat dengan masalah sampah ini. Untuk itu berharap, kita semua dapat memiliki pemahaman, dan kesadaran akan pentingnya mengolah sampah,

” sehingga masyarakat diharapkan bisa menyadari dan memahami pentingnya pengolahan sampah dari sumbernya salah satunya adalah sampah rumah tangga,” pungkasnya.

Editor: Van’s

BAGIKAN