Fungsi Car Free Day harus Dikembalikan Pada Semula.

66
Ket Foto: Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kabupaten Garut Asep Suparman Sip M.Si,

Wartawan : Ph

GARUT, (KF).- Hari minggu sebagai hari libur sebenarnya waktu yang sangat tepat untuk berolah raga dan berekreasi setelah sepekan berkutat dengan aktifitas kerja, jalan-jalan dengan keluarga atau kerabat di pagi hari dan menikmati udara pagi hari tanpa suara dan bising kenalpot kendaraan bermotor adalah salah satu pilihan yang banyak digemari masyarakat.

Car Free Day atau Hari Tanpa Kendaraan seharusnya membuat suasana nyaman para pejalan kaki atau yang sekedar berolahraga di jalanan yang lenggang dan bebas polusi kendaraan.

Namun apa yang terjadi di CFD, sepanjang jalan Ahmad Yani, jl.Pramuka kecamatan Garut kota sekarang ini jauh dari mencerminkan tentang panorama kesejukan dan ketenangan tersebut karena tumpah ruahnya para Pedagang Kaki Lima yang tumbuh subur seperti jamur di musim hujan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kabupaten Garut Asep Suparman Sip M.Si, mengatakan Car Free Day itu sudah berubah fungsi, yang seharusnya dalam beberapa jam masyarakat bisa menikmati suasana bebas kendaraan dan bebas polusi tetapi sekarang seolah-olah menjadi pasar tumpah.

“Jelas ini adalah kesempatan para pedagang di CFD untuk berdagang karena di sana tidak ada pungutan apapun, sehingga mendorong para pedagang dadakan untuk berjualan disitu. Apalagi sekarang jam yang sudah ditentukan itu sudah bergeser dari jam 7.00 wib sampai jam 9.00 wib kini dari subuhpun para pedagang itu sudah mulai memadati arena CFD dan bahkan ada juga yang berjualan sampai pukul 13.00 wib. Itu belum selesai” Katanya.

Berkaitan dengan sampah yang ditinggalkan di CFD, Asep menambahkan “Pada akhirnya masalah sampah itu menjadi tanggung jawab kami, itu diluar kegiatan rutin kami melaksanakan pembersihan yang kadang-kadang sampai malam sudah tentu kami harus mengeluarkan opreasional ekstra tambahan yang dananya diambil dari dana yang lain” ujarnya

Ditanya tentang harapannya pada pelaksanaan CFD ke depannya Kadis menambahkan bahwa fungsi CFD harus dikembalikan pada semula yakni sebagai sarana olah raga dan rekreasi keluarga tanpa adanya polusi dan para pedagang yang memberikan kesan kumuh.

“Lihat saja sarana umum yang kami sediakan di sana seperti pot bunga, Vertical Garden, Asesoris-asesoris lainnya jadi rusak, ataupun rumput-rumput taman yang dijadikan tempat dagangan, serta kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan dan sampah yang berserakan menyisakan pekerjaan ekstra pada kami” paparnya

Ditambahkan nya, dalam hal ini harus ada kajian ulang tentang CFD di tingkat FORKOPIMDA karena kekumuhan ini menyangkut berbagai leading sektor agar fungsi dari kegiatan ini dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga masyarakat Garut.

Editor : Indra R

BAGIKAN