Gadis Kecil Ini Rela Temani Ayahnya Mengemis

54
Ket foto: istimewa

GARUT, (KF).- Pengemis atau gelandangan seringkali kita temukan diwilayah perkotaan Garut, kali ini, Tim DPC PWRI Kabupaten Garut, mencoba mencari kebenaran di antara sekian banyak pengemis itu. Apakah merek (pengemis red) benar-benar membutuhkan dan tak punya pilihan lain kecuali dengan menadahkan tangan pada orang lain?

Ataukah mungkin di antara mereka ada yang melakukan ini karena keterbatasan kemampuan dan fisik. Tentunya hal Itu bisa kita terima dan bahkan kita perlu mengulurkan tangan untuk mereka. Seperti yang ditemui Tim, pada Rabu (20/9/2017) tepat pada malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam 1439H.

Seorang pengemis kecil dengan kaki beralaskan kantong keresek asal Kosambi, Bandung, Yuyun (5), rela membantu dan mendampingi bapaknya yang berpakaian compang-camping mengumpulkan uang receh di sudut-sudut perkotaan Garut.

Setiap hari, ia dan orangtuanya berharap belas kasihan dari orang-orang yang berada di sepanjang trotoar Jalan Ahmad Yani, Ciledug, Alun-Alun, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, dan sekitarnya. Ketika matahari terbit, Yuyun dan bapaknya, yakni Hermawan (48) sudah berada di pinggiran jalan diwilayah perkotaan Garut.

Yuyun biasa mendampingi bapaknya yang menderita Disabilitas karena tidak mampu berjalan seorang diri. Sementara ibunya Titi (25) menanti di rumah sambil mengurus anak keduanya, Aryani yang baru berumur satu tahun.

Menjadi pengemis tentunya bukan pilihan, ingin hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai, pribahasa tersebut mungkin tergambar dalam raut muka seorang anak perempuan kecil.

Yuyun. Anak gadis berusia lima tahun itu seharusnya sudah tertidur lelap saat menyaksikan iringan-iringan Pawai Obor menjelang Tahun Baru 1439 Hijriyah, saat melintas di Kantor Kecamatan Garut Kota.

“Di Bandung saya sudah tidak memiliki tempat tinggal. Sekarang tinggal di Garut karena istri tinggal di Kecamatan Samarang. Meski sudah empat tahun disini, nama kampung dan desa di Samarang saya tidak tahu persis, karena setiap hari juga kami tinggal di gubuk dekat Jembatan Kerkof,” Ujar Hermawan.

Setiap harinya mereka mulai mengemis pukul 07.00 – 09.00 WIB, Yuyun dan orangtuanya pun rela tidur di gubuk terdekat dan pulang ke tempat tinggalnya setiap seminggu sekali. Setiap hari, ia bisa mendapatkan uang yang tidak cukup besar, ” dari pagi hingga malam, terkadang saya bisa memperoleh uang 30 ribu atau 40 ribu,” Akunya. (Tim)***

BAGIKAN