Gita: Pemerintah Harus Kelola Sampah Agar Bernilai Ekonomis

191

Garut, KF- Akhir-akhir ini Pemkab Garut dibuat pusing oleh warga sekitar Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Pasir Bajing, yang melarang truk-truk sampah yang akan membuang sampah ke TPA yang ada di Kecamatan Banyuresmi itu. Bahkan warga hanya memberi batas waktu tiga bulan kepada Pemkab Garut, untuk mencari solusi alternatif TPA, hingga Maret nanti.

Gita Noorwadhani selaku pegiat lingkungan hidup Yayasan Paragita, sudah sejak lama memberikan solusi pengelolaan sampah, dengan cara daur ulang untuk sampah kering, atau anorganik. Dan dijadikan pupuk cair dengan tabung komposer, untuk sampah organik.

” Masalah sampah ini harus dibenahi dari sumbernya, yaitu dari rumah warga.Jika tidak begitu, maka sampah sampai kapanpun akan menjadi masalah bagi pemerintah. Benahi dari sumbernya itu, dengan cara mengajak masyarakat untuk memanfaatkan sampah menjadi bernilai ekonomis. Itu yang sudah kami lakukan selama ini dan ternyata masyarakat mau,” katanya.

Dikatakannya, seharusnya pemerintah itu menganggap serius persoalan sampah, jangan hanya memikirkan tempat pembuangan sampah. Sebab katanya pula, kalau hanya mencari lokasi TPA tidak akan jadi solusi yang efektif.” Misalnya Pasir Bajing diperluas, atau atau dapat lokasi TPA di daerah lain. Kemarin saya dengar DLHKP memperluas TPA 1,5 Hektar, tapi mau sampai kapan membuang sampah ke situ ? Di Garut masih luas lahan yang kosong, tapi mending dipakai untuk rumah, maupun pertanian dari pada untuk tempat sampah,” ujarnya.

Meski dilakukan perluasan di Pasir Bajing, lanjut Gita, permasalahan sampah tetap saja tidak ajan teratasi karena hanya memindahkan smpah dari satu tempat, ketempat yang lain. Tetap saja masyarakat sekitar akan terdampak juga imbasnya oleh sampah yang dibuang ke TPA. Suatu saat pasti akan ada reaksi penolakan.” Sekalipun ada legok Nangka untuk TPA sampah dari enam daerah, saya yakin suatu saat akan ada reaksi. Sebab selama tidak dikelola menjadi barang yang berguna, kehadiran sampah dimanan pun akan mengganggu masyarakat sekitar TPA,” tandasnya.

Solusi penanganan sampah menurutnya, sangatlah mudah, hanya saja perlunya kemauan dari pemda untuk merangkul komunitas pecinta lingkungan. Karena banyak komunitas pecinta lingkungan yang bergerak, namun suportnya dari pemerintah tidak ada .

Dijelaskannya, apa yang selama ini ia lakukan bersama masyarakat di desa – desa, ternyata masyarakat mau dan sadar untuk mengelola sampah, apabila ada yang mengarahkan dan dilakukan pembimbingan secara kontinyu. “Sebenarnya masyarakat mau bergerak untuk mengelola sampah, terlebih jika jadi sesuatu yang bermanfaat bagi mereka,” pungkasnya. (Jay).

BAGIKAN