Kang Uu: “Pedagang Pasar Harus Diproteksi”

180

CIAMIS, (KF).- Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Nomor Urut 1, Uu Ruzhanul Ulum melakukan kunjungan ke sejumlah pasar tradisional di Ciamis, Selasa (22/5/2018) siang tadi. Berturut-turut, pria yang akrab disapa Kang Uu ini mendatangi Pasar Kawali, Pasar Rajadesa, dan Pasar Rancah.

Uu mengaku sengaja mendatangi pasar tradisional untuk melihat kondisi, berdialog, sekaligus menyerap aspirasi para pedagang dan warga yang kerap menggantungkan hidup mereka terhadap aktivitas jual beli di pasar. Kunjungan langsung terhadap warga ini dinilai penting untuk memtakan persoalan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

“Saya datang ke pasar tujuannya adalah ingin mengetahui apa yang menjadi keinginan, harapan, masyarakat pasar terhadap pemimpin Jawa Barat masa yang akan datang. Sehingga saya tidak salah dalam membuat keputusan terkait perekonomian di Jawa Barat,” kata Uu kepada wartawan di sela-sela kunjungan.

Bupati Tasikmalaya nonaktif ini memandang pasar tradisional punya peranan penting dalam roda perekonomian. Menurutnya, pasar tradisional merupakan salah satu ruang transaksi ekonomi yang melibatkan warga-warga setempat yang berada di sekitar lokasi pasar. Secara tidak langsung, ujar Uu, pasar tradisional ini juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Karena itu, Uu menilai keberadaan pasar tradisional harus dilindungi. Menurutnya pemerintah punya keewajiban memberikan proteksi terhadap pedagang pasar yang notabene merupakan pengusaha kecil dan menengah. Perlindungan  diberikan agar keberadaan mereka tak tergerus kehadiran pasar dan pertokoan modern.

“Kami termasuk penganggum ekonomi kerakyatan di pasar tradisional, tapi bukan berarti kami anti terhadap pasar modern. Kami pun harus mampu menaungi pedagang pasar, memperjuangkan mereka, memberikan perlindungan kepada mereka jangan sampai tergeser dengan sendirinya,” katanya. 

Keluhan terkait makin ditinggalkannya pasar tradisional oleh pembeli ini salah satunya disampaikan Sekretaris Himpunan Pedagang Pasar Galuh Kawali, Abdul Khobir Farizal, yang menyebut rataan pendapatan pedang di Pasar Kawali mengalami penurunan bertahap selepas pasar dan pertokoan modern dibangun berkala pada 2008 lalu.

“Sekarang pendapatan kita paling cuma seperempatnya dibanding sebelum ada pasar dan toko modern. Sekarang saja, pas puasa, pasar kita masih sepi pembeli. Pembeli sudah beralih ke pasar-pasar modern. Di sini banyak toko modern yang jaraknya dekat dengan pasar,” kata Farizal.

Terkait hal tersebut, Uu mengatakan jika dirinya sudah mengantongi konsep strategis yang bisa diterapkan untuk melindungi pedagang pasar dan petani serta warga setempat. Dia mengaku bakal mengadopsi program proteksi pedagang pasar tradisional dan petani yang sudah digulirkan di Kabupaten Tasik.

Secara teknis, Uu menyebut pasar-pasar maupun pertokoan modern tak boleh dibangun di areal dekat pasar tradisional. Pemerintah mematok radius minimum jarak antara pasar tradisional dan modern ini sekitar 2,5 km. Produk-produk yang dijual di pasar modern tersebut juga 30% di antaranye merupakan produk lokal.

“Dengan jarak seajuh itu, orang yang mau belanja ke pasar tradisional tidak akan tergiur pergi ke pasar modern. Ini sudah kami lakukan di Kabupaten Tasikmalaya. Sehingga ada solusi yang sama-sama menguntungkan untuk pedagang pasar tradisional dan pengusaha pasar modern,” katanya.

Oleh. : Tono Efendi

Editor : Van’s