Ketua MUI : Cimanuk Menggugat Pelaku Illegal loging Harus Dihukum Mati

183

KF – Banjir bandang Sungai Cimanuk yang terjadi Rabu dini hari (22/09) mengakibatkan 33 orang meninggal dan puluhan orang lainnya dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian. Bukan hanya itu, amukan Cimanuk telah meluluhlantakan bangunan dan fasilitas lainnya. Berbagai spekulasi muncul spal penyebab banjir bandang Sungai Cimanuk tersebut.

Ketua MUI Kabupaten Garut, KH Sirojul Munir pun angkat bicara. Dia menyitir Ayat Alqur’an bahwa kerusakan alam dan bencana yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia. Begitupun dengan bencana banjir bandang sungai terpanjang di Jawa Barat itu, Kyai menyebut karena kerusakan ekosistem di hulu sungai, sehingga dikatakannya “Cimanuk Menggugat”.

“Bencana ini adalah bencana nasional, cimanuk saat ini menggugat, ini adalah hasil tangan jahil manusia, contohnya gunung gundul, gunung Cikuray gundul, gunung Papandayan gundul, sedangkan kedua gunung tersebut adalah hulu dari sungai cimanuk,” demikian pendapat pria yang akrab dipanggil Ceng Munir saat ditemui wartawan di Posko Bantuan PCNU Garut, Jl. Pembangunan, Minggu (25/09).

Menurut Munir, biasanya saat hujan diantara kedua gunung tersebut, hanya salah satu saja yang hujan. Jika gunung Cikuray hujan, Papandayan tidak hujan, begitu juga sebaliknya. Namun malam Rabu lalu (21/09) kedua duanya hujan dan curah hujannya sangat tinggi. Cimanuk tak mampu menampung air hujan, karena kondisinya semakin menyempit, akibat terjadinya alih fungsi lahan.

“Cimanuk harus dinormalisasi mulai dari reboisasi, penanaman sejuta pohon harus dilakukan sebagai upaya konservasi, badan cimanuk harus dilebarkan, besarnya air bah Cimanuk itu sebagai tanda besarnya kerusakan yang terjadi, kalau Cimanuk tidak dilebarkan, ini akan terjadi lagi bencana seperti ini,” ujar Munir.

Mantan ketua PCNU Garut ini, mengajak semua pihak untuk bahu membahu memperbaiki alam, tanpa harus saling menyalahkan. “Sulit untuk menyalahkan pihak mana yang salah, saat ini tidak perlu saling menyalahkan,” ujar pimpinan ponpes Urug Bayongbong ini.

Namun demikian, Munir mengngatkan, adanya fatwa MUI yang menyatakan, bahwa pelaku illegal loging (penebangan liar) harus dihukum mati. tapi regulasi UU tidak bisa seperti itu. ” NU pada sejak Tahun 2005 sudah mengeluarkan fatwa, kalau pelaku illegal logging harus dihukum mati. Fatwa itu masih berlaku hingga saat ini. Namun umat Islam kan bukan eksekutor, eksekutornya adalah pemerintah,” tandasnya.

Kyai yang pernah nyalon sebagai Bupati Garut itu, menyayangkan kurangnya rerspon dari pemerintah terkait fatwa tersebut. Bukan hanya pemerintah sebagai Umaro yang kurang respon, tapi juga masyarakat yang sudah tak acuh.”Bagaimana manusia jika sudah tidak taat pada ulama, tidak patuh lagi pada fatwa ulama, ini sudah mendekati kehancuran, mudah mudahan kiamat masih jauh.” katanya, saat melihat pembagian bantuan untuk korban banjir di Kantor PC. NU tersebut.

Untuk membantu para korban banjir, PCNU sudah membuka posko bantuan sejak hari pertama pasca banjir, di Kantor PC. NU yang berada di lingkungan SMK Maarif jalan Pembangunan. Dikatakan Munir posko ini adalah posko yang pertama berdiri dan langsung bergerak cepat dengan mengkoordinir bantuan yang masuk, serta segera mendistribusikannya ke lokasi yang terkena bencana.

“Untuk masyarakat yang terkena bencana silahkan untuk datang kesini meminta bantuan, tidak usah membawa apa apa, asal laporan saja, nanti tim dari kami memverifikasi, dan seteka itu datang langsung membawa bantuan. Kalau harus memakai persyaratan seperti KTP dan identitas lain kan repot, kasian mereka karena mungkin identitas resmi mereka mungkin hilang karena hanyut terbawa banjir, jadi untuk korban silahkan datang langsung kesini, kami menunggu,” ujar Munir.

Di tempat yang sama, Sekretaris PCNU kabupaten Garut, Ir H Deni Ranggajaya, mengatakan, bahwa posko yang dibukanya sudah banyak barang bantuannya yang ditampung, malah terkesan membludak. Hal ini terjadi karena semua lembaga atau instansi telah terkoordinasi sebelumnya, baik yang dilingkungan NU maupun di luar lingkungan NU.

“Untuk yang tergabung di NU, yang masuk di Badan Otonom (Banom) sudah langsung kami intruksikan untuk memberikan bantuan, seperti Anshor, Fatayat, LPPNU, IPNU, IPPNU, ISNU, juga kepada MWC di kecamatan kecamatan,” ujar Deni.

Lembaga NU diluar kabupaten Garut pun, sambungnya, turut berpartisipasi memberikan bantuan. “Untuk apa menumpuk di posko kami, karena bantuan ini amanah untuk korban, maka jika cepat tersalurkan itu lebih baik. Untuk masyarakat korban silahkan datang kesini langsung, tidak usah membawa identitas apapun, yang penting mereka betul-betul korban,”pungkas Deni. (Jay).