Kolecer Garut Kerap kali Mendapat Donasi Buku Misterius

72
Ket Foto: Kotak Letarasi Cerdas yang berad di taman kian Santang. (Foto oleh : G13)

GARUT, (KF).- Petugas Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) akhir-akhir ini dibuat terkejut dan penasaran dengan adanya seseorang yang mendonasikan bukunya di rak buku Kolecer secara misterius yang dipajang di Taman Kiansantang, pertigaan jalan Papandayan dan Jalan Kiansantang, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, pada hari Rabu (15/05). Donasi buku tersebut dilakukan dua kali dalam satu pekan kemarin.

Usut punya usut, ternyata yang mendonasikan buku-bukunya ke kolecer cukup banyak, mulai dari individu hinga para komunitas penggiat literasi, seperti Sulistya D. Putri salah satu penggiat Forum Lingkar Pena (FLP) yang menyumbangkan koleksi komiknya di Kolecer. Ada juga penulis dari FLP lainnya, Utep Sutisna, salah satu penulis aktif dan produktif di Kabupaten Garut turut menyumbangkan karyanya.

“Ada juga pak Adi wahyudi beserta anaknya, ikut berdonasi buku di Kolecer. Hal ini menambah koleksi Kolecer dengan buku-buku yang menarik, membuat para pejalan kaki semakin betah di Taman Kian Santang sambil membaca,” ujar Komarudin, petugas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip), Kabupaten Garut, Rabu (15/5/2019).

Guna kenyamanan, kini fasilitas taman dilengkapi payung untuk melindungi para pembaca dari terik sinar matahari, terutama saat bulan ramadhan ini. Lisnawati, selaku Kepala Dispusip menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah mendonasikan buku-buku pribadinya ke Kolecer.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat yang telah mendonasikan buku-bukunya ke Kolecer, semoga menjadi ladang amal di bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini. insya Allah bermanfaat bagi para pemustaka atau pengunjung Kolecer,” ujarnya.

Sampai bulan April kemarin, jumlah buku di Kolecer mencapai 48 buku. Namun biasanya sampai akhir bulan ini suka banyak kejutan. Sedangkan tingkat pengunjung Taman Kiansantang dinilai cukup meningkat. Apalagi sejak adanya sosialisasi, para ibu sudah tidak melarang lagi anak-anaknya membaca bahkan mengapresiasi dengan menyuruh putra-putrinya mampir ke Kolecer.

“Istilahnya, lebih baik baca buku dari pada main game terus,” ujar Koko menirukan kaum ibu yang setia menuggu anaknya yang belum bisa membaca.

Selain anak-anak, ada pula pedagang, tukang becak serta masyarakat yang kerap memaanfaatkan sarana, meski tidak biasa dibawa pulang.

“Mereka sudah tidak takut membaca buku di Kolecer, walau tidak bisa di bawa pulang,” ujar Rini Lutfiyani, petugas jaga khusus Kolecer yang kini digaji langsung Pemda Provinsi Jabar. (G13)

Editor : Dra R

BAGIKAN