Komisi D DPRD Garut: SD Regol Masuk Bangunan Cagar Budaya

154
Exif_JPEG_420

Garut, KF- Kalangan budayawan dan pemerhati sejarah Garut kembali sambangi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Garut, Rabu (22/3/2017) untuk memastikan bahwa bangunan cagar budaya di SD Regol tidak diruntuhkan.

Audiensi dari perwakilan pemerhati sejarah Garut termasuk Rani Permata (istri Dicky Chandra), diterima langsung oleh DPRD Komisi D yang juga turut dihadiri perwakilan dari SKPD terkait baik itu Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan, PUPR Kabupaten, Bapusipda Garut.

“Alhamdulillah tadi dijawab (SD Regol yang masuk dalam kategori Cagar Budaya) tidak akan diruntuhkan tapi direnovasi, dan itu sangat membahagiakan. Pada awalnya 5 lokal tapi telah terjadi beberapa perubahan menjadi 6 lokal, dan itu dikembalikan ke bentuk awal,” ujar Sekertaris (Tim Penilai Pengkaji Pahlawan Daerah (TP2GD) Kabupaten Garut, Dedi Effendi, usai audiensi di Gedung DPRD Komisi D Kabupaten Garut.

Dalam kesempatan itu, lanjut Dedi, pihaknya juga kembali membahas tentang pengajuan kembali pemberian gelar pahlawan terhadap RA. Lasminingrat. Ia mengaku, upayanya tersebut mendapat respon dari Gubernur dan Provinsi Jawa Barat.

“Gubernur menyampaikan bahwa Ra Lasminingrat itu harus diajukan kembai untuk menjadi pahlawan nasional. Mudah-mudahan didukung Pemda Garut, kalau pemprov jelas sudah mendukung dengan akan mencari data sampai ke Belanda,” katanya.

Sampai saat ini, data yang diperolehnya dinilai lengkap, namun diperlukan cek dan ricek untuk memastikan validitas data tersebut. Untuk pengecekan data itu, kata Dedi, membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena ada beberapa data yang harus dipastikan ke luar negeri seperti Belanda, Australia atau kegiatan lainnya.Sementara Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Garut, Asep D Maman, mengatakan, hasil dari audiensi pihaknya bersama TP2GD dan Dinas terkait menghasilkan kesepakatan bahwa bangunan cagar budaya di SD Regol tidak akan diruntuhkan.Yang mana bangunan yang menjadi fakta sejarah RA Lasminingrat membangun Sekolah Kawibawaan Istri pada tempo dulu itu masuk dalam cagar budaya yang harus dipertahankan. 

“Kalaupun ini (rencana pemugaran SD Regol 7 dan 10) sudah teranggarkan (Rp 7 Milyar) di tahun 2017 ini, ya barangkali Grand Designnya dari awal mungkin dirubah, RAB dirubah, Designnya dirubah, tapi kami berharap tidak mengganti lokasi, kan ada disitu SD Regol 8, 9 11 12 sehingga bisa disitu,” ujar Asep.

Masalah lain yang menjadi bahasan, yakni tidak adanya lampiran yang mencantumkan SD Regol 7 dan 10 sebagai cagar budaya di Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut, Padahal ada plang bangunan cagar budaya sudah dibuat terlebih dahulu, Sehingga hal ini harus bisa diselesaikan.( J Wan)***

BAGIKAN