Korban Banjir Tak Mau Pindah Ke Rusunawa

105

img_20160921_100701.jpgGARUT- Untuk relokasi ratusan kepala keluarga (KK) warga korban banjir bandang Sungai Cimanuk, yang kini menghuni tempat-tempat pengungsian sementara, seperti di rumah susun sederhana sewa (rusunawa), Gedung Islamic Center, rumah kerabat dan tempat pengungsian lainnya. Pemerintah akan membangun dua Rusunawa lagi disamping Rusunawa yang sudah ada, yakni di Jalan Raya Bayongbong, Kecamatan Cilawu. Namun sejumlah warga korban banjir tak mau pindah ke Rusunawa. Mereka tetap ingin tinggal di tempat semula, yakni di bantaran Sungai Cimanuk.

“Pami tea mah pamarentah keukeuh warga kedah ngalih, nya abdi oge siap. Mung ulah ka Rusunawa weh,” kata Hanhan (38) salah seorang warga Kampung Kikisik, Kel. Paminggirsari, Kec. Garut Kota, usai menerima bantuan berupa kompor gas dari keluarga besar Kadin Kamis (6/10/16).

Han Han menyebutkan, banyak pertimbangan kalau harus pindah ke Rusunawa, di antaranya tak mampu untuk membayar uang sewa lantaran berpenghasilan rendah, masih punya anak kecil, dan harus adaptasi kembali dengan lingkungan. “Gaduh murangkalih alit mah hariwang calik di bumi tingkat mah. Abdi mah tetep hoyong didieu weh, da ieu mah bumi abdi aya seseratanana. Pami kedah ngalih nya ulah ka rusunawa atuh,” kata Han Han yang kini tinggal dilokasi pengungsian di Gedung Islamik Center Jalan Pramuka Garut Kota.

Senada dengan Hanhan, warga lainnya, Iyah (50). Dia yang kehilangan orang tuanya akibat terseret banjir menyebutkan, lebih memilih sewa rumah yang berada di perkampungan biasa, daripada harus tinggal di Rusunawa yang dinilainya asing bagi lingkungannya. Bahkan, mereka pun mengaku tak mampu untuk membayar uang sewa lantaran berpenghasilan rendah. “Caroge abdi icalan emameun, murangkalih di Indramayu. Penghasilanana oge teu sabaraha. Bumi hancur, ayeuna nyewa di Rengganis,” kata Iyah warga Kampung Leuwidaun yang tinggal di bibir Sungai Cimanuk.

Sementara itu, Bupati Garut, Rudy Gunawan menegaskan, Pemerintah berencana menjadikan bantaran sungai Cimanuk menjadi hutan kota. Sedangkan warga yang sebelumnya tinggal dikawasan itu akan dipindahkan ke rusunawa. “Jadi begini, yang tinggal disana hanya sewa atau ngontrak akan kami pindahkan ke rusunawa. Sedangkan bagi mereka yang memiliki surat-surat rumahnya tapi tinggal di tempat berbahaya akan ditukar guling. Mereka tetap akan dipindahkan ke tempat lain,” katanya.

Bupati pun menyebutkan, pembangunan rusunawa yang semula akan dibangun di Desa Margawati, Kec. Garut Kota dipastikan akan dipindahkan ke Kelurahan Suci Kaler, Kec. Karangpawitan. “Memang sebelumnya akan di Margawati, tetapi kortur tanahnya atau kemiringan tanahnya tidak memungkinan, sehingga dipindah ke kawasan Copong dekat rumah Pak Aceng Fikri (mantan bupati garut),” kata Bupati.

Dikatakannya, bantaran sunga Cimanuk, sudah tidak bisa lagi untuk dijadikan tempat hunian warga. Karena dilokasi itu beresiko tinggi, tetapi kalau dijadikan hutan kota jelas akan terdapat serapan air. “Jadi kami tegaskan di bantaran Sungai Cimanuk tidak boleh ada pemukiman, terlalu bahaya.” ujar Bupati. (Jay).

BAGIKAN