Lebih dekat dengan Raden Marlan

103

Jurnalis: Ph

GARUT, ( KF)- Sosok yang satu ini asli putra Daerah yang empat puluh lima tahun lamanya merantau di Jakarta, tapi bukan berarti melupakan tanah kelahirannya di Kabupaten Garut, setelah sukses di Ibu Kota tidak lantas menjadikan Raden Marlan menjadi seorang yang apatis terhadap aspek sosial ekonomi dan politik di Garut, bahkan dirinya langsung terjun ke lapangan mengadakan survei dan pemetaan sendiri dari ujung utara sampai ujung selatan Garut.

Lelaki kelahiran enampuluh tahun yang lalu namun nampak masih segar karena selalu menjaga stamina dan kebugaran tubuhnya ini mengaku sejak dua tahun yang lalu dirinya bersama istri tercintanya, Hj Siti Julaeha yang sudah dikaruniai tiga orang anak serta dua cucu ini, selalu mengikuti kemana dia pergi menjelajahi seluruh pelosok Garut dan bertemu dengan berbagai macam karakter dan tingkatan sosial serta aneka macam tingkah masyarakat.

Merasa bersyukur itu yang selalu dikemukakan oleh Raden Marlan, karena semakin banyak menjumpai orang semakin banyak pula silaturahmi yang terjalin

“Ketika saya harus berhadapan dengan berbagai macam karakteristik manusia yang tentu saja berbeda satu sama lainnya, saya bersyukur karena Allah mempertemukan saya dengan keluarga saya yang semakin bertambah pula rezeki saya,” papar Marlan

Marlan merasa perlu untuk membanguyan kemitraan dengan siapa saja, karena itu pula dirinya merilis program ekonomi yang berbasis kerakyatan diantaranya mendirikan peternakan ayam dan peternakan sapi yang sudah berjalan dan dikelola oleh para petani di daerah

“Saya merasa perlu membangun ekonomi kerakyatan ini karena akan memperkuat sistem perekonomian rakyat yang berada di desa-desa untuk lebih mengoptimalkan para petani dan pengrajin dan lebih meningkatkan taraf hidup mereka” papar Marlan

Bukan saja dalam bidang peternakan bahkan Raden Marlan pun merambah pada usaha kerakyatan di bidang pangan seperti perkebunan jagung

“Garut yang menurut survey adalah penghasil jagung terbesar di Asia maka sepatutnyalah jika sentra penghasil jagung ini dipertahankan atau lebih ditingkatkan, untuk lebih bersaing lagi di dunia usaha pangan maka saya merasa berkewajiban untuk mensuport para petani jagung untuk tetap eksis” ungkapnya.

Titik balik perjuangan dari seorang Raden Marlan ternyata tidak berhenti karena tidak terpilihnya menjadi kandidat Calon Bupati Garut, tetapi terus bergulir searah program yang telah dicanangkannya, sikap terpuji ini layak mendapat apreaiasi dari semua kalangan dan patut digaris bawahi bahwa untuk menjadi seorang pejuang tidak harus menjadi seorang pemimpin.

Editor: Indra R

BAGIKAN