Medsos Bisa Mengganggu Kerukunan Dan Melemahkan Sistem Pertahanan Negara

421

KF, – Usai orasi ilmiahnya pada acara wisuda Sarjana, Pascasarjana dan Diploma Universitas Garut (Uniga), yang berlangsung di Kampus Uniga Jalan Raya Samarang, Sabtu (10/12), Dansesko TNI, Letjen Agus Sutomo, kepada kalangan media, mengatakan,pengaruh media sosial (Medsos) sangat luar biasa dan bisa menggangu kerukunan Bangsa Indonesia, serta melemahkan sistem pertahanan negara.

“Ciri khas Bangsa Indonesia yang patriot, bangsa yang gotong royong, bangsa yang mengutamakan persatuan dan kesatuan, Dan bangsa yang selalu menyelesaikan segala permasalahan dengan musyawarah. Tapi yang kita rasakan sekarang ini sebagai pengaruh nedia sosial yang luar biasa, yang tadinya kita selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan, sudah mulai dirobek-robek. Ini bahaya karena bisa mengganggu kerukunan dan melemahkan pertahanan negara,” tutur Agus.

Oleh karena itu, menurut Agus, undangan dari pihak rektorat Uniga kepada dirinya untuk hadir dalam acara wisuda tersebut,menjadi sangat penting untuk memberikan pemahaman wawasan kebangsaan, karena disinyalir Bangsa Indonesia ini sudah jauh dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

” Saya diundang oleh Pak Rektor dan civitas akademika untuk menyampaikan orasi ilmiah, dengan tema soal penguatan wawasan kebangsaan. Itu hikmahnya, supaya kita kembali pada fitroh Bangsa Indonesia. kita saling menghargai, saling menghormati untuk menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya.

Dalam orasinya, Letjen Agus mengingatkan para wisudawan dan hadirin lainnya, kalau bangsa asing sekarang ini sangat menginginkan potensi alam Indonesia yang subur makmur. Mereka masuk ke Indonesia, dengan caramemanfaatkan kelemahan Bangsa kita yang mudah dipecah belah.” Mereka masuk ke semua lini, supaya masyarakat dengan TNI tidak bersama lagi, supaya TNI dengan Polri tidak akur,” paparnya.

Dia mencontohkan berkibarnya bendera Cina beberapa waktu lalu sebagai ancaman kedaulatan NKRI. Sebab menurutnya, bendera asing itu hanya bisa dikibarkan di negara lain hanya ada dua alasannya, yaitu bila ada kunjungan kepala negara yang bersangkutan dan berkibar pada event olah raga internasional.

” Jadi bendera sebuah negara itu bisa berkibar di negara yang lain, itu hanya ada dua alasan. Apabila kepala negaranya berkunjung ke suatu negara dan apabila ada kegiatan olahraga internasional, atau olahraga antar kawasan. Selanjutnya tidak ada alasan,” tegasnya.
Wisuda Uniga sendiri diikuti sebanyak 598 lulusan dari berbagai program. Program Diploma, Sarjana, dan Program Pascasarjana. Dengan rincian sebagai berikut, Program Pasca Sarjana sebanyak 17 lulusan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sebanyak 71 lulusan, Fakultas Ekonomi sebanyak 224 lulusan, Fakultas Pertanian sebanyak 29 lulusan, Fakultas MIPA sebanyak 151 lulusan, Fakultas Pendidikan Islam dan Ilmu Keguruan sebanyak 74 lulusan, dan Fakultas Ilmu Komunikasi sebanyak 31 lulusan dan Fakultas Teknik sebanyak 1 lulusan. Sejak berdiri tahun 1973 dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahtraan (STIK) yang kemudian menjadi Universitas Garut tahun 1998, telah menghasilkan sekitar 16.600 alumni. Mereka telah terserap di lingkungan pemerintahan, pembangunan dan pengembangan kemasyarakatan diberbagai bidang kehidupan. (Jay).

BAGIKAN