Pengusaha Bata Merah dan Petani di Kota Banjar Mengeluh ke Kang Uu

60

KOTA BANJAR, (KF). –  22 hari menuju hari pencoblosan, Cawagub Uu Ruzhanul Ulum terus berkampanye ke daerah-daerah di Jabar. Dalam setiap kunjungannya, warga selalu berkeluh kesah kepada Kang Uu. Kali ini pelaku UKM bata merah dan petani di Banjar mengeluhkan persoalan usahanya dan sulitnya air untuk pertanian.

Uje, warga, Binangun, Kampung Giri Mulya, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, misalnya. Dia mengeluhkan  usahanya yang mulai seret sejak masuknya bata putih ke pasar Kota Banjar. Warga lebih suka membeli bata putih daripada bata merah karena bata putih lebih murah dibandingkan bata merah.

“Selisih harganya Rp 800 ribu per kubik. Tapi  secara kualitas, bata merah lebih bagus daripada bata putih,” kata Uje, Selasa (5/6/2018) siang tadi.

Sejak ada penjualan bata putih di Banjar, omzet penjualan bata merah turun 20 persen. Bata putih tersebut dibuat secara pabrikan oleh perusahaan besar dan sejak setahun terakhir ini bata putih yang didatangkan dari Kota Tasikmalaya itu sudah memasuki  kota Banjar.

Menurut Uje, persaingan dalam bisnis itu bagus, kehadiran bata putih, membuat pelaku UKM bata merah harus lebih jeli lagi membuat strategi marketing. Kalau tidak demikian, maka usahanya bisa gulung tikar.

Di kampungnya,  mayoritas warga membuka usaha bata merah. Satu pengusaha mempekerjakan sekitar 5 hingga 7 orang.  “Kalau kita tidak pintar menjual, maka usahanya bisa gulung tikar,” kata dia.

Persoalan lain yang dihadapi pelaku UKM bata merah adalah kurangnya kayu bakar untuk membakar bata merah. Menurut dia bata merah tidak bisa di oven, tapi harus  dibakar dengan menggunakan kayu bakar agar kualitasnya tetap terjaga. “Kami berharap  Pak Uu memberikan  bantuan alat atau teknologi untuk bakar batu merah ini,” ujarnya.

Dengan seretnya penjualan, lanjut Uje, aliran modal tidak lancar. Karena itu,  dia berharap jika Kang Uu terpilih sebagai wagub ada bantuan modal dari bagi pelaku UKM di desa-desa,

Mendengar keluhan tersebut, Kang Uu menyatakan, fenomena persaingan, permodalan, hingga marketing yang dihadapi pelaku UKM  sudah sering dia temui di berbagai daerah. Seperi di Jatiwangi, Purwakarta,  termasuk di Banjar.

“Produk UKM umumnya kalah bersaing dengan produk-produk yang dibuat secara pabrikan atau perusahaan besar.  Persaingan itu mulai dari harga hingga kualitas produknya,” ujar Kang Uu.

Karena itu, menurut dia, pemerintah harus hadir untuk membantu dan memperhatikan para pelaku UKM. Bantuan yang mereka butuhkan antara lain pengembangan usaha dengan memberikan Pendidikan dan pelatihan, pemasaran hingga permodalan.

“Pemprov Jabar  punya Bank BJB yang tujuannya meningkatkan perekonomian masyarakat. Saya berharap bank BJB ke depan lebih berkontribusi membantu para pelaku UKM agar perekonomian di desa tumbuh,” ujar cucu KH. Choer Affandi, pendiri Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Tasikmalaya ini. 

Sementara kelurahan petani di Desa Purwaraharja, Kota Banjar, menurut Kang Uu adalah masalah air untuk pertanian. Untuk menjawab persoalan itu, ia menawarkan program Gerbang Desa, salah satunya adalah pembangunan irigasi, untuk memenuhi kebutuhan  air bagi pertanian.

“Jangan sampai air dari hulu mengalir terus ke sungai hingga akhirnya ke laut, tapi harusnya ditampung di irigasi untuk kemudian disalurkan ke sawah-sawah milik warga. Sehingga warga bisa produksi padi lebih baik dan kesejahteraan pun meningkat,” ucap Kang Uu.

Jurnalis : Tono Efendi

Editor. : Van’s