Seni Cigawiran Berkembang Di Lingkungan Pesantren

76
Foto: istimewa

GARUT, (KF).- Cigawiran, adalah salah satu jenis kesenian berbasis seni suara yang berasal dari Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi Kabupaten Garut. Sama halnya seperti Cianjuran dari Cianjur dan Ciawian dari Tasikmalaya, Cigawiran merupakan salah satu jenis tembang Sunda yang mempunyai langgam yang khas.

Menurut Salah seorang penerus Cigawiran yang sampai saat ini menekuni seni ini, Nur Susan mengatakan bahwa Cigawiran merupakan seni vokal yang mempunyai kekhususan dan berbeda dengan lagam-lagam Tembang Sunda lainnya.

“Selain lagamnya yang khas, ternyata kesenian ini juga berkembang di lingkungan Pesantren dan dijadikan sebagai media untuk berdakwah didaerah Kampung Serang Desa Cigawir Kecamatan Selaawi sekitar tahun 1823 dengan tokohnya Rd. H. Jalari, lalu dikembangkan lagi oleh Rd. H. Abdullah Usman, lalu Rd. Mohamad Isya sampai dengan masa Rd. Agus Gaos , Rd. Muhammad Amin dan Rd. Iyet Dimyati” papar Susan yang juga seorang pendidik Sekolah Luar Biasa ini.

Bermula dari kebiasaan Rd. H. Jalari yang senang mesantren hingga ke Jawa Timur. yang memiliki kebiasaan mengarang guguritan atau nyanyian dengan mengikuti aturan pupuh. Setelah pulang dari perjalanan, Rd. H Jalari mendirikan pesantren di tempat kelahirannya Cigawir. Dan diajarkan pula guguritan sebagai media berdakwah.

Nur Susan juga memaparkan bahwa pada perkembangan yang selanjutnya, tembang Cigawiran lebih dikenal oleh masyarakat luas di luar pesantren

“Upaya yang dilakukan oleh beberapa tokoh seperti R. Abdullah Usman, R. Moch Isya, R. Mochamad Amien, R. Iyet Dimiyati, dan R. Agus Gaos.Syairnya pun mengalami pelebaran tema yaitu mengandung berupa kritik social, pepatah, pergaulan yang bersifat humoris dan tentunya dakwah Islamiyah. Dan uniknya lagi, jika jenis tembang sunda yang lainnya diiringi instrumen musik, jenis tembang sunda yang satu ini tidak diiringi instrument musik, walaupun masih menggunakan laras pelog, salendro, madenda, dan mataraman yang terdapat dalam karawitan Sunda” pungkas Nur Susan.

Nur Susan pun membawakan Cigawiran ini sebagai refleksi regenerasi pada acara Ngaguar Budaya Sorangan yang di adakan di Fave Hotel, Sabtu (17/3), dibawah koordinasi Kepala Staf Daerah Distrik Militer (Kasdim) 0611/Garut, Mayor Inf. Aat Supriatna, yang juga sebagai Budayawan handal di tatar Garut ini.

Oleh : Apih

Editor : Indra R

BAGIKAN