Terkait Kredit Fiktif, Bank BTN Tasikmalaya Digeledah Kejaksaan

282

Kota Tasikmalaya, (KF).-Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tasikmalaya menggeledah kantor cabang bank BTN Tasikmalaya di Jl.Sutisna Senjaya Kota Tasikmalaya, Senin (10/12/2018) siang tadi.

Penyidik Kejari Tasikmalaya yang dikawal petugas dari Polresta Tasikmalaya, sekitar jam 10.00 – 13.00 WIB berhasil menyita beberapa barang bukti di kantor tersebut.

“Ada berkas seperti map pengajuan kredit yang disimpan sebanyak 7 dus dan 2 koper hitam yang kami sita dari bank BTN sebagai barang bukti,” terang Kajari Kota Tasikmalaya Selamat Simanjuntak,SH,MH., Kepada koran-fakta.com usai memperingati acara Hari Anti Korupsi Internasional tingkat Kota Tasikmalaya, Senin (10/12/2018) siang tadi dikantornya

Didampingi Kasie Pidsus Masmudi,SH dan Kasie Intel Widi Wicaksono,SH, Kejari Salamet kembali menjelaskan,
Pihak Kejaksaan pada tanggal 30 Nopember 2018 telah mengeluarkan sprindik kepada penyidik dan meminta ijin kepada pihak Tipikor Bandung untuk melakukan penggeladahan terhadap Bank BTN Cabang Tasikmalaya terkait dugaan kredit fiktif atas laporan masyarakat yang merasa dirugikan.

Menurutnya, Kejari Tasikmalaya dalam penggeledahan tersebut menyita dokumen tentang dugaan pencairan kredit fiktif dari 391 debitur Bank BTN.

Dari keterangan tim penyidik kejaksaan, kerugian negara akibat kredit fiktif ini ditaksir mencapai Rp. 6 Milyar.

Lebih lanjut Kajari Tasikmalaya menegaskan, bahwa kasus ini tentunya akan dikerjakan secara maraton. Bahkan Kajari sendiri akan langsung turun tangan dalam pemeriksaan kasus tersebut.

“SDM kami sangat terbatas, apalagi nanti kita akan memeriksa seluruh debitur yang jumlahnya ratusan, mudah mudahan kasus ini segera terungkap makanya saya sendiri akan turun langsung membantu pemeriksaan ,” tegas Kajari.

Dari pihak Bank BTN sendiri hingga saat ini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka, saat ini masih dalam tahap penyelidikan memanggil beberapa saksi terlebih dahulu, imbuh Salamet.

Kasus dugaan penyalahgunaan dana di BTN ini sebetulnya terjadi pada tahun 2010/2011. Dari hasil penyelidikan sementara beberapa debitur yang mengajukan kredit seperti KUR / KUMK diduga mereka (debitur-red) tidak menerima kredit tersebut. Bahkan uang pencairan kredit dibelikan lapak/kios di pasar Cikurubuk.

Jurnalis : Tono Efendi

Editor : J.Gunawan

BAGIKAN