Terkait Penambahan Kuota Pasar Modern, GMBI Kota Tasikmalaya Mendesak Agar Perwalkot No.1 Tahun 2015 Direvisi

271

KOTA TASIKMALAYA,(KF)-Pasar modern yang cenderung lebih bersih, nyaman, dan teratur kini semakin dibutuhkan masyarakat.

Keberadaannya yang terus merebak ternyata pertumbuhan pasar modern di Kota Tasikmalaya membuat tempat belanja yang satu ini diminati dan menjadi pilihan utama.

“Akan tetapi berdirinya pasar modern tentunya harus melibatkan pengusaha lokal. Ini dimaksudkan untuk menepis anggapan apa betul jika terdapat pasar modern di suatu wilayah akan mematikan pasar terdisioanl, dan anggapan ini perlu kita luruskan, makanya saat ini kita telah mengkaji dan menganalisa dengan seksama agar Pemkot Tasikmalaya dapat menambah kembali kuota penambahan bagi pasar modern dengan catatan harus melibatkan pengusaha lokal,” jelas Dede Sukmajaya Ketua LSM GMBI Kota Tasikmalaya kepada koran-fakta.com, Rabu (16/1/2019) siang tadi usai melakukan Audiensi bersama pejabat Dinas terkait dilingkungan Pemkot Tasikmalaya.

Dalam Audiensi tersebut Jajaran Pengurus GMBI Kota Tasikmalaya langsung diterima diruangan Aula Rapat Kantor DPMPTSP. Tampak hadir Kepala DPMTSP Kota Tasikmalaya Haddy Riadi, Kepala Disperindag H.Firmansyah, Bagian Ekonomi Setda, Satpol PP Kota Tasikmalaya dan Dinas Terkait.

Menurut Aktivis yang dikenal tegas membela kepentingan Rakyat Kota Tasikmalaya itu mengatakan, apa yang dilakukan GMBI Kota Tasikmalaya ini sudah diperhitungkan secara matang dan seksama. Usulan kami Terkait keberadaan Pasar Modern yang diatur dalam Perwalkot No.1 Tahun 2015 harus segera direview atau di revisi ulang, tentunya memiliki dasar dan tujuan yang jelas.

“Dasar kami tentunya ingin ada rasa keadilan sesuai dengan sila ke 5 Pancasila disebutkan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan ini tentunya sebagai warga negara berhak untuk melakukan usaha selagi usaha tersebut tidak merugikan orang lain malah sebaliknya menguntungkan banyak pihak,” ungkap Dede.

Dalam Perwalkot Nomor 1 Tahun 2015 tentang peraturan pelaksaan peraturan daerah terkait penyelenggaraan Pasar Tradisional, Pusat Pembelanjaan dan Toko Modern, dimana dalam aturan tersebut ada pembatasan jumlah kuota berdirinya pasar modern di suatu wilayah kecamatan. Apalagi saat ini beberapa kecamatan yang ada di Kota Tasikmalaya, pihak perijinan di DPMTSP sudah membatasi jumlah kuota pasar modern.

“Setelah kita menganalisa dan mengkaji Perwalkot No.1 Tahun 2015, tentunya kita menyerap beberapa aspirasi para pengusaha lokal khususnya di Kota Tasikmalaya, agar diberi kesempatan untuk ikut berkompetisi dalam perdagangan.Apalagi pada tahun 2025 mendatang Kota Tasikmalaya akan menjadi pusat industri dan perdagangan nomor satu untuk wilayah Priangan Timur, Jawa Barat,” tegas Dede.

Oleh karena itu, dalam audiensi tersebut, GMBI Kota Tasikmalaya mendesak agar Pemkot Tasikmalaya dapat memberikan kesempatan kepada para pengusaha lokal dengan cara menambah kuota untuk perijinan dan mendirikan toko modern/mini market dibeberapa wilayah Kecamatan di Kota Tasikmalaya.

Menurut pandangan GMBI, dibeberapa wilayah teritorial Kota Tasikmalaya, penambahan kuota untuk toko modern ini bisa dilakukan diwilayah kecamatan yang cakupan masih luas seperti,
Tamansari, Kawalu, Bungursari, Indihiang dan Purbaratu. Bahkan tidak menutup kemungkinan diwilayah Kecamatan Cihideung, Cipedes dan Tawang, bisa ditambah kembali kuota, ucapnya.

Masih kata Dede, pada tahun 2018 jumlah penduduk Kota Tasikmalaya tentunya akan semakin meningkat dengan didukung Insfratruktur Jalan yang semakin baik. Sementara jika kita tetap merujuk pada
Pembatasan kuota pasar modern dalam Perwalkot no 1 2015 pada pasal 4 point 2, tentunya ini sudah tidak relevan lagi, diantaranya tingkat kepadatan dan pertumbuhan penduduk sesuai data sensus yang masih mengacu pada tahun 2012.

Disamping itu, potensial ekonomi setempat, aksebilitas wilayah, dukungan keamanan dan ketersediaan Insfratruktur, termasuk perkembangan pemukiman baru dan pola kehidupan masyarakat setempat saat itu, kini telah mengalami perubahan dan peningkatan.

“Oleh karena itulah GMBI akan mendorong pemerintah dengan asas rasa keadilan, untuk segera merevisi kembali Perwalkot No.1 Tahun 2015, dengan penambahan kuota pasar modern di setiap wilayah kecamatan yang ada di Kota Tasikmalaya,” tegas Dede.

Di akhir pembicaraannya, Dede meyakini bahwa dengan ditambahnya kuota pasar modern, masyarakat tidak perlu khawatir apalagi beranggapan akan mematikan usaha pasar tradisional. Menurutnya dengan tambahnya kembali kuota pasar modern yang melibatkan pengusaha lokal, tentunya masyarakat bisa ikut berpartisipasi serta pengusaha lokal tentunya akan menggandeng masyarakat khususnya para pengrajin dan usaha kuliner diwilayah masing masing agar dagangannya bisa dijajakan dijual didalam area pasar modern.

“Yang penting harga barang di pasar modern harus lebih bersaing dalam artian harganya harus lebih tinggi dibanding harga dipasar tradisional. Semisal harga rokok sebungkus dipasar tradisional Rp.20 ribu,sementara di pasar modern harganya Rp.22 ribu/bungkus,” pungkasnya.

Jurnalis : Tono Efendi

Editor. : J Wan

BAGIKAN