Uu Dorong Produksi Kedelai Lokal Demi Industri Tahu

44

SUMEDANG, (KF).- Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut 1, Uu Ruzhanul Ulum berjanji akan mendorong produksi kedelai lokal demi memudahkan produsen tahu mendapatkan pasokan bahan baku. Bupati Tasikmalaya itu pun akan membantu menyelesaikan masalah lainnya yang dihadapi para pelaku.

Saya bersama Kang Emil akan membantu para produsen tahu di Sumedang supaya lebih mudah mendapatkan bahan baku,” ujarnya di pabrik Tahu Jembar Manah di Samboja Patung Kuda, RW 08 RT 05, Desa Pasangrahan Baru, Kecamatan Sumedang Selatan, Sabtu (5/5/2018).

Dia menjelaskan kedelai merupakan bahan baku utama pembuatan tahu. Namun pasokannya masih mengandalkan impor sehingga bisa membebani produsen jika terjadi fluktuasi harga dollar.

Karena itu, Uu menilai produksi kedelai lokal perlu digenjot demi menghilangkan ketergantungan pasokan kedelai dari luar negeri.

Akan kami dorong petani menanam kedelai dengan memanfaatkan lahan sawah saat musim kemarau. Di Tasikmalaya, cara seperti tersebut bisa berhasil dengan menggandeng TNI,” bebernya.

Menurutnya, potensi tahu Sumedang yang menjanjikan belum berkembang secara optimal. Hal ini karena belum ada sentuhan moderinasi serta pemasaran digital.

Uu mengusulkan penggunaan teknologi yang lebih canggih agar produksi dapat meningkat dan efisien. Selain itu, pemasaran tahu secara digital diharapkan mampu memperluas pasar.

Kegiatan produksi tahu sangat menarik untuk dilihat secara langsung. Ini sangat cocok untuk dijadikan wisata edukasi,” jelasnya.

Sementara itu, pemilik pabrik tahu Jembar Manah, Ndit Suhandi mengaku  membutuhkan pasokan kedelai sebanyak 3 kuintal per hari. Angka tersebut menungkat 2 kali lipat saat libur akhir pekan dan meningkat 4 kali lipat saat musim Lebaran. Tahu dijual Rp600 per butir.

Dia mengakui penggunaan kedelai lokal membuat rasa tahu lebih enak. Akan tetapi, pasokannya sulit didapat sehingga para produsen terpaksa menggunakan kedelai impor. Adapun pasokan kedelai lokal biasanya berasal dari Garut.

Kami terpaksa pakai kedelai impor. Padahal, harganya sangat mahal karena dipengaruhi harga dollar. Kami biasa mendapatkan kedelai lokal dari Garut,” pungkasnya.

Penulis : Tono Efendi/har

Editor : J Wan