Warga Gunakan Jembatan Eretan Tambang Untuk Akses Penyebrangan Sungai

238

Warga yang hendak menyebrangi sungai Cimanuk dari kampung Cibunar ke wilayah kampung Lebak siu
Warga yang hendak menyebrangi sungai Cimanuk dari kampung Cibunar ke wilayah kampung Lebak siu
KF.-Sejak 2 bulan lalu pasca Banjir Bandang Sungai Cimanuk, hingga kini akses jembatan penyebrangan yang berlokasi di Kampung Lebak Siuh, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota yang tengah porak poranda akibat terjangan banjir bandang sampai saat ini belum diperbaiki. 

Bahkan berdasarkan pantauan “koran-fakta.com” disekitar wilayah tersebut Jembatan darurat pun belum tersedia. Hingga saat ini untuk akses menyebrangi sungai, warga setempat hanya bisa menggunakan jembatan eretan yang ditarik dengan tambang. Karena apabila tidak menggunakan itu, warga harus arungi sungai atau jauh memutar jalan.

Iman (54) warga  Kampung Cibunar, Desa Cibunar kecamatan Tarogong kidul, mengatakan, pasca hancurnya jembatan penghubung antara Desa Cibunar Kecamatan Tarogong Kidul dan Kampung Lebak Siuh, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota, warga agak kesulitan untuk akses penyebrangan.

Bekas Jembatan yang hancur akibat terjangan banjir arus sungai Cimanuk dua bulan lalu
Bekas Jembatan yang hancur akibat terjangan banjir arus sungai Cimanuk dua bulan lalu

“Memang benar tidak ada lagi jalan kecuali pake eretan ini, dan yang narik itu bergantian dari swadaya warga sini. Kadang kalau gak ada siapa-siapa yang narik itu gak bisa, harus minta tolong untuk ditarik,” Katanya.

Menurutnya, jembatan yang sebelumnya kerap digunakan para petani termasuk jemaah asal warga setempat untuk melakukan pengajian di Pesantren Al-Qodar. Dengan kondisi ini apabila warga menyebrang harus bergantian ngantri.

Dindin (52) warga Perum Cempaka, yang sengaja datang untuk bersilaturahmi dengan pendiri sekaligus pemilik pondok pesantren AL-QODAR. Dirinya mengaku, sangat bersyukur saat hendak melintas ada seseorang yang membantunya nyebrang dengan menarik eretan. Pasalnya, akan kesulitan apabila saat menyebrang tidak ada yang narik.

“Ya kebetulan saya mau bersilaturahmi dengan pemilik pondok pesantren dan kebetulan ada juga yang hendak menyebrang jadi bisa bergantian menarik dan Alhamdulillah sampai ke tujuan meskipun sedikit menantang adrenalin saya. Kebayang kalau tidak ada siapa-siapa bakal sulit, apalagi kalau malam hari gelap tentunya akan sulit,” Ujarnya.

Dirinya berharap pihak terkait bisa segera membangun kembali jembatan penyebrangan yang menghubungkan dua kelurahan tersebut. (Dra R)

BAGIKAN