Bocah Tanpa Anus, Warga Kecamatan Kadungora Garut ini Butuh Uluran Tangan

168
Ket Foto : Sarah, anak Rian dan Siti Aisyah yang dikabarkan tidak memiliki lubang anus, dan kondisinya saat ini butuh uluran tangan (Foto istimewa)

Koran- Fakta.Com (KF).- Orang Tua mana yang tidak sedih ketika buah hatinya menderita penyakit yang sangat sulit diobati, bahkan biaya pengobatan yang tidak murah bagi orangtua yang terbilang tidak mampu membuat mereka sangat sedih dan sangat memprihatinkan.

Kondisi tersebut, nampak terlihat dalam kerut wajah kedua orang tua Sarah (7 Tahun). Seorang anak kecil tanpa Anus yang lahir dari pasangan Rian dan Siti Aisyah. Warga Kp. karamat, Desa Tanggulun, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut Jawabarat.

“ Kami selaku orang tu tentunya sedih dengan kondisi Sarah saat ini, Apalagi kini proses untuk operasi saja sangat ribet dan memerlukan biaya yang tidak sedikit nilainya,” ujar Rian saat ditemui dirumah Panggung yang ditempatinya. Rabu (05 Februari 2020).

Diakui Rian, Sarah yang kini berusia 7 Tahun mulai minder dengan kondisi tersebut.

“Kasian kang anak saya minder kalau bergaul dikalangan teman-temannya karena suka ada bau ditubuhnya kalau plastik kotorannya bocor,” ucap ia dengan nada sedih.

Lanjut diakui Rian, dirinya sudah berupaya untuk meminta bantuan kepada pihak pemerintah agar dapat bantuan biaya untuk pengobatan sang buah hatinya. Namun upaya tersebut hingga saat ini belum ada realisasinya.

“Bulan lalu kami meminta bantuan lewat petugas Dinas Sosial untuk biaya akomodasi selama dirumah sakit, tapi hanya merekomendasikan ke pihak Baznas Garut untuk pembiayaannya. Pengajuan bantuan kami ajukan ke pihak Baznas Garut  lama belum juga ada realisasi, akhirnya kami datang ke kantor Baznas Garut dengan harapan ada sedikit bantuan biaya, tapi pihak Baznas Garut hanya bilang akan di proses Rekomendasi Ke Baznas Provinsi,” paparnya

Sambunngnya, Terus terang sekarang kami serba salah jangankan utuk biaya selama di Rumah Sakit, untuk biaya makan sehari hari keluarga kami di rumah juga sangat sulit, apalagi kami sekarang tidak bisa bekerja karena harus bolak balik ngurusin anak ke RSHS Bandung.

“Kami berharap pihak pemerintah terkait untuk bisa memperhatikan nasib kami orang miskin, dan mudah-mudahan ada hamba Allah yang sudi kiranya untuk membantu untuk penyembuhan anak kami,” harap Rian sembari meneteskan Air mata. (Indra R)***

BAGIKAN