Meski Dimasa Darurat Covid-19. Sejumlah PSK Masih Berani Membuka Diri, Tanpa Mengindahkan Protokol kesehatan

97
Ket Foto : Nampak sejumlah pekerja seks komersial diwilayah perkotaan Garut.

Koran-Fakta.com (KF).- Dalam masa darurat Covid-19, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Garut, Hendra S Gumilar, mengatakan bahwa untuk kegiatan usaha malam hari, seperti kedai kopi dan tempat hiburan malam dan lainnya, boleh buka hanya sampai pukul 22.00 WIB, itupun harus memberlakukan dengan ketat protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19.

“ Hasil rapat Forkopimda Sabtu kemarin, bahwa untuk kegiatan tempat usaha malam boleh buka dengan batas maksimal pukul 22.00 WIB harus sudah tutup. Akan tetapi dalam buka tersebut juga, pemilik atau pun pengelola harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” ujar Hendra, di halaman Pendopo, Senin (21 September 2020) Kemarin

Hendra menjelaskan, hal ini diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup) Garut nomor 47 tahun 2020, tentang disiplin protokol kesehatan, yang mana bagi pelanggar ada dikenakan sanksi ringan, sedang dan berat.

“ Dalam sanksi berat bisa sampai penutupan sementara atau bisa seterusnya,” tegas Hendra.

Hendra mengaku, sejak kemarin malam, anggota Satpol PP sudah melakukan pemantauan bersama TNI-Polri, namun kata Hendra, pengelola meminta secara tertulis.

“ Untuk sementara belum ada pelanggar, dan malam Minggu kemarin itu kita baru memberitahu dan malam Senin-nya kita cek, hanya satu atau dua, kuliner malam yang belum. Yang paling banyak itu di kedai kopi dan hiburan malam, termasuk pagi hari di Kerkhof,”  bebernya.

Untuk masalah masih ditemukannya para Pekerja Seks Komersil (PSK) yang berkeliaran, Hendra mengatakan, ada 10 personil Satpol PP dan 10 angota Polri dari Sabhara yang setiap malam melakukan operasi, hanya saja, sambung dia, petugas tidak bisa secara terus menerus standby di lokasi, karena harus patroli ke seluruh wilayah.

“ Tetapi setiap malam terus dilakukan keliling beroperasi. Mungkin kelemahan kami itu, tidak bisa nongkrong terus disitu (tempat biasa mangkal PSK) untuk mengawasi mereka,” cetusnya.

Disinggung mengenai operasi secara menyisir ke penginapan atau hotel, Hendra menjelaskan, itu dilakukan kalau ada aduan dari warga masyarakat.

“ Kalau tidak ada aduan ke kita, jangan sampai kita melanggar hak-hak mereka, orang tidak melakukan apa-apa kita gedor. Jangan sampai masuk ke hotel, kita gedor, ini berimbas menurunkan potensi yang lain,” pungkasnya.

Berdasarkan pantauan dilapangan, sejumlah pekerja seks komersial masih melakukan aktivitas seperti biasa, guna mencari lelaki hidung belang, disejumlah jalan diwilayah perkotaan, bahkan tanpa mengindahkan protokol kesehatan. (Indra R)

Editor : Van’s

BAGIKAN