Opini Munawaroh, Berkaitan Dengan Kemelut Full Day School

352
Ket Foto : Munawaroh _Sekretaris Koordinator Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah kabupaten Garut Mahasiswa Keguruan Indonesia (MKI).

Koran-Fakta.com (KF).- Di Indonesia, melalui pelaksanaan sistem pendidikan full day school, kita akan melihat suatu fenomena dimana siswa seakan dipaksa untuk pintar disegala bidang mata pelajaran belum lagi sewaktu beres kegiatan KBM, sebagian siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Kegiatan pembelajaran secara terus-menerus disertai pergantian antar mata pelajaran lebih dari 9 jam memang dirasa kurang cukup ideal.hal itu disampaikan Munawaroh selaku Sekretaris Koordinator Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah kabupaten Garut Mahasiswa Keguruan Indonesia (MKI) .

Dikatakannya. Ada alasan lain yang menjadi bahan pemikiran saya bahwa Jam belajar yang dimulai dari pukul 07.00 sampai pukul 12.00 WIB, secara ideal siswa akan siap menerima asupan materi pelajaran ketika waktu pagi menjelang siang hari.

“Tidak dapat dipungkiri, mantan siswa manapun akan merasakan hal yang sama bahwa suasana pembelajaran yang sangat efektif itu ada diwaktu pagi menjelang siang. Dan sebaliknya, mereka juga akan merasakan mumetnya suasana pembelajaran disaat siang menjelang sore apalagi jika metode pembelajaran yang digunakan oleh guru terbilang klasik dan monoton hingga akhirnya pada situasi ini, siswa kebanyakan hanya menjadi penonton, menyaksikan guru mengajar dengan pikiran kosong,” katanya

Sambung ia. Kebutuhan siswa tidak hanya bertumpu pada kebutuhan pendidikan, kebutuhan istirahat yang cukup, dan kebutuhan bergaul dengan lingkungan sekitar, perlu dipertimbangkan secara bijak demi masa perkembangan anak agar tumbuh secara matang dan sehat. Dan hal ini berlainan dengan realita sistem Full Day School yang diterapkan disebagian sekolah.

Dismapaikan nya. Penelitian menunjukkan bahwa apabila direncanakan dengan baik, waktu istirahat dapat meningkatkan kehadiran serta prestasi akademik.
“Hal ini juga dapat membantu anak-anak berteman dan belajar cara mengatasi konflik,”ucapnya

Lanjut disampaikan. Pentingnya bermain dan waktu Istirahat bagi anak-anak sudah diakui oleh Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (HAM PBB), yang memandang hal Ini penting untuk kestabilan emosional dan kreatifitas siswa.

“Sistem pendidikan nasional kita memang dirasa keras terasa dipaksakan. Dampak sikologis dari kegiatan pembelajaran yang kurang ideal tidak hanya akan dirasa oleh siswa, gurunya sendiripun pasti akan merasakan hal yang sama,” kata ia

sambungnya. Guru tidak akan selamanya semangat dalam melakukan kegiatan pembelajaran, terlebih jika memasuki ruang kelas yang tidak didukung oleh suasana yang nyaman.

Bahkan kata ia, Reorientasi dalam pendidikan, gencar sekali dilakukan oleh pemerintah. Namun sejauh ini pemerintah kita belum menemukan solusi yang tepat dalam melakukan reduksi sistem pendidikan dalam bentuk yang sesederhana mungkin namun efektif.

“Meski terkesan kurang begitu menarik, isu pendidikan dalam hemat saya, merupakan suatu keharusan dalam menyikapi dan memikirkan solusi jalan keluarnya. Karena apapun itu, persoalan pendidikan merupakan hal yang bersifat urgent dan tidak dapat di abaikan termasuk soal simpang siurnya rumor kedapatan 774 anak usia sekolah yang putus sekolah yang terjadi di kecamatan Sucinaraja kabupaten Garut saat ini,” ungkap ia

Meski diduga adanya kesalahan data yang dimuat dalam website, sambung ia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, namun kesalahan itu dirasa kurang rasio mengingat 774, merupakan angka yang cukup besar dan dirasa mustahil jika ada kesalahan infut atau eror system.

“Bila hal ini positif benar adanya, maka jelas hal ini merupakan tamparan keras bagi pemerintah daerah kabupaten Garut untuk lebih memperhatikan nasib pendidikan didaerahnya,” jelas ia menutup pembicaraan. (RD)***

Editor : Indra R

BAGIKAN